Oleh: M. A. Rahmat Setiawan Sekjen FMST
SUMEDANG | STNews - Di tengah dunia yang semakin bising oleh ambisi, eksistensi, dan pengakuan, falsafah Sunda kembali mengetuk kesadaran:
“Indit bari cicing, lumampah ulah ngalengkah, manusa kudu bisa nyumput buni dinu caang.”
Sekilas terdengar paradoks. Pergi tapi diam. Berjalan tanpa melangkah. Bersembunyi di tempat yang terang. Namun di situlah kedalaman maknanya—sebuah ajaran tentang laku batin, tentang bagaimana manusia hidup tanpa kehilangan arah ruhani.
Makna Filosofis: Bergerak Tanpa Guncangan Ego
“Indit bari cicing” bukan berarti pasif, melainkan bergerak dengan ketenangan. Dalam kehidupan modern, manusia sering terjebak dalam keinginan untuk terlihat—memamerkan pencapaian, mengejar validasi sosial. Padahal, kearifan ini mengajarkan: bergeraklah tanpa gaduh, berkaryalah tanpa riuh.
“Lumampah ulah ngalengkah” adalah simbol dari perjalanan hidup yang tidak selalu harus tampak secara fisik. Ada langkah-langkah batin—perenungan, kesabaran, dan keikhlasan—yang justru lebih menentukan arah hidup seseorang.
Nyumput Buni Dinu Caang: Ikhlas di Tengah Sorotan
Bagian paling dalam dari falsafah ini adalah:
“manusa kudu bisa nyumput buni dinu caang”—manusia harus mampu bersembunyi dalam terang.
Ini bukan tentang menghilang, melainkan tentang menjaga keikhlasan di tengah keterlihatan. Di era digital, ketika setiap kebaikan mudah dipublikasikan, nilai ini menjadi sangat relevan. Tidak semua yang baik harus diumbar, tidak semua amal perlu diketahui.
Dalam perspektif Islam, nilai ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu...”
(QS. Al-Baqarah: 271)
Ayat ini menegaskan bahwa amal yang tersembunyi, yang dilakukan tanpa pamrih pengakuan, memiliki nilai spiritual yang lebih tinggi di sisi Allah.
Antara Tradisi dan Spiritualitas Islam
Kearifan lokal Sunda tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh selaras dengan nilai-nilai tauhid. Filosofi ini mengajarkan manusia untuk tidak diperbudak oleh dunia, sekaligus tetap aktif menjalani kehidupan.
Hal ini juga sejalan dengan ayat lain:
“Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan sombong...”
(QS. Al-Isra: 37)
Kesombongan seringkali lahir dari keinginan untuk terlihat. Maka, “berjalan tanpa melangkah” adalah simbol kerendahan hati—tidak menonjolkan diri, namun tetap memberi manfaat.
Relevansi di Era Modern
Di zaman sekarang, manusia cenderung:
- Mengejar pengakuan daripada makna
- Menampilkan citra daripada hakikat
- Berbicara lebih banyak daripada merenung
Falsafah ini hadir sebagai pengingat bahwa nilai sejati tidak selalu tampak di permukaan.
Menjadi “buni dinu caang” berarti:
- Tetap berkarya tanpa haus pujian
- Tetap memberi tanpa ingin diketahui
- Tetap kuat tanpa harus terlihat hebat
Penutup: Sunyi yang Bernilai
Kearifan Sunda ini bukan ajaran untuk menghindar dari dunia, melainkan cara menghadapi dunia tanpa kehilangan jiwa.
Dalam diam ada kekuatan.
Dalam tersembunyi ada kemurnian.
Dalam ketidakterlihatan, ada kedekatan dengan Tuhan.
Maka, di tengah dunia yang semakin terang oleh sorotan,
jadilah manusia yang mampu “nyumput buni dinu caang”—hadir, tapi tidak terikat; terlihat, tapi tetap ikhlas.
(Redaksi)


