STNews | Kajian Budaya & Spiritual
“Nyaring Kudu Jadi Éling, Peurih Kudu Jadi Peurah: Ulah Paéh Dina Hirup”
Oleh: M. A. Rahmat Setiawan, Sekjen FMST
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang kian bising dan serba cepat, masyarakat Sunda sejak dahulu telah mewariskan nilai-nilai luhur melalui pepatah yang sarat makna. Salah satunya berbunyi: “Nyaring kudu jadi éling, Peurih kudu jadi peurah, ulah paéh dina hirup, raga hirup tapi paeh haté.”
Pepatah ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cermin filosofi hidup yang dalam—mengajak manusia untuk tetap sadar, kuat, dan hidup secara utuh, bukan sekadar bernapas tanpa makna.
Makna Filosofis: Dari Nyaring Hingga Peurih
“Nyaring kudu jadi éling” mengandung pesan bahwa dalam kondisi gaduh, penuh tekanan, bahkan konflik, manusia harus tetap eling—ingat diri, ingat Tuhan, dan tidak kehilangan arah. Kebisingan dunia tidak boleh menghilangkan kesadaran spiritual.
Sementara “Peurih kudu jadi peurah” mengajarkan bahwa rasa sakit, luka batin, atau penderitaan harus diolah menjadi pelajaran hidup. Bukan untuk disesali, melainkan dijadikan kekuatan dan kebijaksanaan.
Pesan ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap rasa “peurih” (sakit) yang dialami manusia sejatinya mengandung hikmah dan jalan keluar bagi mereka yang mau bersabar dan merenung.
Jangan Mati Dalam Hidup
Bagian paling kuat dari pepatah ini adalah: “Ulah paéh dina hirup, raga hirup tapi paeh haté.”
Jangan sampai seseorang hidup secara fisik, tetapi mati secara batin.
Fenomena ini nyata dalam kehidupan saat ini—ketika manusia tampak aktif, bekerja, berinteraksi, namun kehilangan nurani, empati, bahkan arah hidup. Hati yang mati ditandai dengan hilangnya rasa peduli, kejujuran, dan kesadaran akan tujuan hidup.
Al-Qur’an menggambarkan kondisi ini dalam firman-Nya:
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.”
(QS. Al-Hasyr: 19)
Ayat tersebut menjadi peringatan keras bahwa ketika manusia kehilangan hubungan dengan Sang Pencipta, maka ia pun akan kehilangan jati dirinya.
Relevansi di Era Modern
Pepatah Sunda ini semakin relevan di tengah tekanan sosial, ekonomi, dan digitalisasi yang sering membuat manusia terjebak dalam rutinitas tanpa makna. Banyak yang “nyaring” oleh dunia, namun lupa untuk “éling”. Banyak yang “peurih”, tetapi tidak menjadikannya “peurah”.
Kajian ini menjadi pengingat bahwa keseimbangan antara lahir dan batin adalah kunci kehidupan yang utuh. Hidup bukan sekadar bergerak, tetapi tentang kesadaran, keteguhan, dan kedalaman hati.
Penutup
Pepatah ini mengajarkan satu hal mendasar: jangan sampai kita kehilangan hidup dalam kehidupan itu sendiri.
Tetaplah sadar dalam kebisingan, kuat dalam penderitaan, dan hidupkan hati di tengah kerasnya dunia.
Karena sejatinya, manusia yang benar-benar hidup bukanlah yang sekadar bernapas, tetapi yang hatinya terus menyala dalam kebaikan dan keimanan.
STNews – Mengabarkan Makna, Menguatkan Nilai.
(Redaksi)


