Oleh : Rahmat Setiawan Sekjen FMST
SUMEDANG, STNews — Wacana bahwa masyarakat Sunda telah mengenal nilai-nilai “keislaman” sebelum kedatangan Islam dari Arab kembali menjadi perbincangan. Hal ini sering dikaitkan dengan filosofi hidup masyarakat Sunda: silih asah, silih asih, silih asuh—yang dianggap mencerminkan nilai ketuhanan dan kemanusiaan yang luhur.
Namun, benarkah Sunda sudah “Islam” sebelum Islam datang? Ataukah ini hanya keselarasan nilai antara budaya lokal dan ajaran Islam?
Akar Filosofi Sunda: Nilai Luhur yang Universal
Filosofi:
- Silih Asah (saling mencerdaskan)
- Silih Asih (saling mengasihi)
- Silih Asuh (saling membimbing)
merupakan warisan budaya Sunda yang telah hidup sejak masa kerajaan-kerajaan kuno seperti Kerajaan Sunda dan Kerajaan Pajajaran.
Nilai-nilai ini tidak lahir dari Islam, melainkan dari kearifan lokal yang dipengaruhi oleh kepercayaan lama seperti animisme, dinamisme, serta Hindu-Buddha. Namun menariknya, nilai tersebut memiliki keselarasan kuat dengan ajaran Islam.
Keselarasan dengan Ajaran Islam
Dalam Islam, konsep hubungan manusia diatur dalam dua dimensi:
- Hablum minallah (hubungan dengan Allah)
- Hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia)
Nilai silih asih, asah, dan asuh sangat dekat dengan ajaran ini.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa…”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini sejalan dengan semangat gotong royong dan kepedulian sosial dalam budaya Sunda.
Islam Datang Menguatkan, Bukan Menghapus
Masuknya Islam ke tanah Sunda sekitar abad ke-15 melalui para ulama seperti Sunan Gunung Jati tidak serta-merta menghapus budaya lokal.
Sebaliknya, Islam:
- Mengadopsi nilai yang selaras
- Meluruskan yang bertentangan
- Menguatkan aspek ketuhanan (tauhid)
Inilah yang membuat Islam di tanah Sunda berkembang secara damai dan kultural.
Apakah Sunda Sudah “Islam” Sebelumnya?
Secara teologis, jawabannya: tidak.
Karena Islam memiliki syarat utama: tauhid (mengesakan Allah) dan risalah Nabi Muhammad ﷺ.
Namun secara nilai moral, banyak ajaran Sunda:
- Sejalan dengan Islam
- Mengandung etika universal
- Mencerminkan fitrah manusia
Dalam Islam sendiri dikenal konsep:
“Fitrah manusia cenderung kepada kebaikan dan kebenaran.”
Kesimpulan: Harmoni, Bukan Klaim
Narasi bahwa “Sunda sudah Islam sebelum Islam datang” lebih tepat dipahami sebagai: 👉 Keselarasan nilai, bukan kesamaan agama
Budaya Sunda telah memiliki fondasi moral yang kuat, dan ketika Islam datang, nilai tersebut:
✔ Disempurnakan
✔ Diperkuat dengan tauhid
✔ Diarahkan kepada ibadah kepada Allah
Penutup
Filosofi silih asah, silih asih, silih asuh menjadi bukti bahwa kearifan lokal Nusantara memiliki nilai luhur yang selaras dengan ajaran Islam.
Bukan berarti Sunda telah lebih dulu “beragama Islam”, tetapi menunjukkan bahwa:
👉 Islam hadir sebagai penyempurna nilai-nilai kebaikan yang telah ada.
(Redaksi)


