Oleh: M. A. Rahmat Setiawan, Sekjen Forum Media Sumedang Timur
STNews — Dalam perjalanan spiritual, para ulama sering mengingatkan sebuah makna mendalam: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan lebih mudah mengenal Tuhannya.” Meski ungkapan ini bukan lafaz hadis yang kuat, namun maknanya sangat relevan dalam kehidupan manusia.
Mengenal Allah tidak selalu dimulai dari langit, tetapi justru dari dalam diri sendiri. Siapa diri kita? Apa yang ada di dalam diri manusia? Dan mengapa manusia disebut sebagai makhluk paling mulia dibanding makhluk lainnya?
Pertanyaan inilah yang menjadi dasar kajian spiritual tentang hakikat manusia dan perjalanan mengenal Tuhan.
Manusia, Makhluk yang Dimuliakan
Allah SWT telah menegaskan kemuliaan manusia dalam firman-Nya:
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam...”
(QS. Al-Isra: 70)
Kemuliaan ini bukan sekadar gelar tanpa makna, tetapi amanah yang harus dipahami dan dipertanggungjawabkan. Manusia tidak mulia hanya karena mengaku mulia, tetapi karena mampu mengenali dirinya, mengendalikan nafsunya, dan memilih jalan hidup yang benar.
Ada Apa di Dalam Diri Manusia?
Secara spiritual, manusia memiliki unsur batin yang kompleks. Di dalam dirinya ada dorongan nafsu, kekuatan jiwa, kecenderungan sifat malaikat, dan ruh yang menjadi sumber kehidupan.
1. Nafsu: Jalan Ujian dari Sifat Syaitan
Nafsu adalah bagian penting dalam diri manusia. Nafsu dapat menjadi pendorong kebaikan, tetapi juga dapat menjerumuskan jika tidak dikendalikan. Dalam tradisi tasawuf dikenal tingkatan nafsu seperti amarah, lawwamah, mulhamah, mutmainnah, radhiyah, mardhiyah, hingga kamilah.
Nafsu amarah misalnya, mendorong manusia pada amarah, iri, dengki, kesombongan, dan kerakusan. Inilah pintu sifat syaitan dalam diri manusia.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan...”
(QS. Yusuf: 53)
Karena itu, manusia yang dikuasai nafsu tanpa kendali sering kali berperilaku seperti iblis—menghalalkan segala cara, saling menjatuhkan, bahkan merasa paling benar sendiri.
2. Sifat Jin: Gigih Mencari, Tetapi Bisa Menjadi Kikir
Ada pula sifat jin dalam makna simbolik spiritual—yakni semangat luar biasa dalam mencari rezeki, bekerja keras, dan mengejar kebutuhan hidup. Namun jika tidak dibimbing oleh ruhani, sifat ini bisa berubah menjadi kikir, hitung-hitungan, dan sulit berbagi.
Allah mengingatkan:
“Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Hasyr: 9)
Kerja keras itu baik, tetapi tanpa kasih sayang dan keikhlasan, manusia hanya akan menjadi budak dunia.
3. Jiwa: Ruang Kosong yang Diisi Pilihan
Jiwa manusia pada dasarnya bersifat netral. Ia seperti wadah kosong yang akan dipenuhi oleh pilihan hidup. Jika diisi oleh nafsu dan keserakahan, maka manusia akan condong kepada keburukan. Namun jika diisi dengan iman dan kesadaran, jiwa akan menjadi tenang.
Allah berfirman:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.”
(QS. Al-Fajr: 27–28)
Inilah tujuan tertinggi manusia—menjadikan jiwanya tenang, bukan gelisah oleh dunia.
4. Sifat Malaikat: Patuh dan Taat
Dalam diri manusia juga ada kecenderungan sifat malaikat—patuh, taat, disiplin, dan tunduk pada perintah Allah. Sayangnya, banyak manusia belum menyadari bahwa setiap ketaatan yang lahir dari hati adalah cahaya malaikat yang hidup dalam dirinya.
Ketaatan inilah yang menjaga manusia tetap lurus di tengah godaan dunia.
5. Ruh: Cahaya dari Allah
Yang paling mendasar adalah ruh. Tanpa ruh, manusia hanyalah jasad tanpa kehidupan. Ruh inilah yang membawa cahaya ketuhanan—bukan berarti manusia adalah Tuhan, tetapi ruh adalah amanah dari Allah yang menghidupkan.
Allah SWT berfirman:
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku...”
(QS. Al-Isra: 85)
Ruh membawa sifat kasih sayang, cinta, dan petunjuk menuju kebaikan. Allah mengantarkan manusia pada pilihan, tetapi tanggung jawab tetap berada pada diri manusia sendiri.
Asal dari Kita, Kembali kepada Kita
Allah memberi kebebasan memilih: menggunakan sifat syaitan, sifat duniawi, atau sifat ruhani menuju cahaya Ilahi. Namun setiap pilihan akan kembali kepada pelakunya sendiri.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah hakikat hidup: bukan tentang siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling mampu mengenali dirinya dan menempatkan ruhnya di jalan yang benar.
Mengenal Diri adalah Jalan Pulang
Kajian ini mengajarkan bahwa manusia bukan hanya tubuh, tetapi perpaduan antara nafsu, jiwa, sifat malaikat, dan ruh ilahi. Ketika manusia memahami dirinya, ia akan sadar bahwa pertarungan terbesar bukan dengan orang lain, tetapi dengan dirinya sendiri.
Dan saat ia mampu menaklukkan dirinya, di situlah ia mulai mengenal Allah.
Karena sejatinya, jalan menuju Tuhan bukanlah perjalanan ke luar— tetapi perjalanan pulang ke dalam diri.
(STNews)


