Oleh: M. A. Rahmat Setiawan, Sekjen Forum Media Sumedang Timur
STNews — Dalam kehidupan beragama, manusia mengenal Tuhan dengan berbagai sebutan. Umat Islam memanggil-Nya Allah, sebagian umat Nasrani juga menyebut Allah, umat Hindu mengenalnya dengan sebutan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dalam tradisi Jawa dikenal sebagai Gusti Pangeran, ada pula yang menyebut Hyang Wening, Sang Pencipta, atau nama-nama agung lainnya.
Lalu muncul pertanyaan mendalam: Apa arti sebuah nama? Apakah Tuhan dibatasi oleh sebutan manusia?
Dalam kajian spiritual Islami, nama adalah jalan pengenalan, bukan batas bagi kebesaran Tuhan. Allah Yang Maha Esa tidak membutuhkan nama untuk menjadi Tuhan, justru manusialah yang membutuhkan nama agar dapat mengenal, memanggil, dan mendekat kepada-Nya.
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa.”
(QS. Al-Ikhlas: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa hakikat ketuhanan dalam Islam adalah tauhid—bahwa Tuhan itu satu, tidak berbilang, tidak terbatas oleh bahasa, suku, bangsa, maupun budaya. Nama boleh berbeda, tetapi kebesaran-Nya tetap satu dan tidak berubah.
Dalam Al-Qur’an juga disebutkan:
“Dan milik Allah timur dan barat; ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 115)
Makna ayat ini sangat dalam—bahwa kehadiran Allah melampaui arah, tempat, bahkan simbol-simbol lahiriah. Tuhan tidak tinggal dalam satu bangunan, satu bahasa, atau satu penyebutan semata. Dia hadir dalam kesadaran, keikhlasan, dan ketundukan hati manusia.
Namun Islam juga mengajarkan bahwa penyebutan nama Allah bukan sekadar panggilan, melainkan pengakuan akan sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna. Allah memiliki Asmaul Husna—nama-nama terbaik—yang menunjukkan kasih sayang, keadilan, kebijaksanaan, dan kekuasaan-Nya.
Allah berfirman:
“Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.”
(QS. Al-A’raf: 180)
Artinya, nama bukan sekadar lafaz, tetapi jalan menuju makrifat—mengenal Tuhan lebih dalam.
Dari sudut pandang spiritual yang lebih luas, setiap keyakinan memiliki cara sendiri untuk menyebut Tuhan sesuai bahasa budaya dan tradisi mereka. Selama hati mencari Sang Maha Pencipta dengan ketulusan, di sanalah ada nilai penghambaan.
Namun dalam Islam, tauhid tetap menjadi pondasi utama: Allah bukan sekadar nama, tetapi Zat Yang Maha Mutlak, tempat seluruh makhluk bergantung.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.”
(HR. Muslim)
Keindahan itu juga tampak dalam cara manusia mengenal-Nya—dengan cinta, dzikir, ibadah, dan akhlak yang baik.
Kajian ini mengajak kita untuk tidak terjebak dalam perdebatan nama semata, tetapi lebih dalam lagi pada makna penghambaan. Sebab Tuhan tidak melihat seberapa fasih kita menyebut nama-Nya, melainkan seberapa tulus hati kita saat memanggil-Nya.
Nama boleh berbeda, bahasa boleh beragam, budaya boleh tidak sama—tetapi bila hati tunduk pada Yang Maha Esa, maka manusia sedang menuju cahaya yang sama.
Karena sesungguhnya, bukan nama yang menjadikan Tuhan agung, melainkan Tuhanlah yang memuliakan setiap nama yang digunakan untuk menyebut-Nya.
Dan pada akhirnya, setiap jiwa akan kembali kepada-Nya — bukan dengan membawa nama, tetapi dengan membawa amal dan ketulusan.
(STNews)


