SUMEDANG, STNews – Pelaksanaan kampanye dialogis Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Tarikolot, Kecamatan Jatinunggal, Kabupaten Sumedang, menghadirkan suasana demokrasi yang mengedepankan gagasan, adu program, dan pendidikan politik bagi masyarakat. Bukan sekadar panggung penyampaian janji, kegiatan ini menjadi ruang bagi warga untuk mengenal lebih dekat kapasitas, pengalaman, serta komitmen empat calon kepala desa periode 2026–2034.
Bertempat di Balai Desa Tarikolot, kegiatan tersebut diikuti empat calon kepala desa yang telah ditetapkan panitia, yakni Yudi Hidayat nomor urut 1, Cicim Heriyanto nomor urut 2, Lasmanah nomor urut 3, dan Tita Tarina nomor urut 4. Hadir pula tokoh masyarakat, perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh agama, tokoh pemuda, serta warga yang mengikuti jalannya kegiatan.
Suasana berlangsung dalam semangat kebersamaan. Setiap calon memperoleh kesempatan menyampaikan visi dan misi sekaligus menjawab pertanyaan yang telah disiapkan panitia. Mekanisme ini memberi ruang bagi masyarakat untuk menilai calon berdasarkan pemikiran, solusi, dan kesiapan mereka dalam mengemban amanah pemerintahan desa.
Empat calon, empat pendekatan membangun Tarikolot
Nomor urut 1, Yudi Hidayat, membawa semangat kepemimpinan kolaboratif melalui konsep “KOMANDO”. Gagasan tersebut menitikberatkan pada pentingnya membangun komunikasi dan kerja sama antara pemerintah desa, ulama, masyarakat, tokoh pemuda, tokoh budaya, serta tokoh perempuan.
Yudi menegaskan bahwa pembangunan desa tidak dapat berjalan hanya dengan mengandalkan kepala desa. Menurutnya, keputusan penting harus dibicarakan bersama melalui musyawarah, sementara kritik dan masukan masyarakat harus dipandang sebagai bagian dari upaya memperbaiki pemerintahan.
“Saya tidak akan bekerja sendiri. Keputusan desa harus lahir dari musyawarah. Kalau benar kita dukung bersama, kalau salah kita perbaiki bersama,” tegas Yudi di hadapan warga.
Sebagai sosok yang aktif dalam organisasi kepemudaan, ia juga menekankan perlunya melibatkan generasi muda dalam pembangunan desa tanpa mengabaikan pengalaman para tokoh senior sebagai pemberi nasihat.
Nomor urut 2, Cicim Heriyanto, menawarkan pengalaman panjang dalam birokrasi pemerintahan desa. Ia telah mengabdi sebagai perangkat Desa Tarikolot sejak 1986, kemudian menjabat Sekretaris Desa pada 2001, diangkat sebagai Sekretaris Desa berstatus PNS pada 2008, serta pernah menjalankan tugas sebagai staf dan bendahara kecamatan. Ia juga pernah dipercaya menjadi penjabat sementara kepala desa pada 2018 dan di desa lain pada 2020.
Visi yang diusungnya adalah mewujudkan Desa Tarikolot yang maju, mandiri, agamis, profesional, amanah, dan bermartabat.
Melalui lima misi utama, Cicim menyoroti pembenahan tata kelola pemerintahan, penguatan kehidupan keagamaan dan sosial budaya, peningkatan profesionalitas perangkat desa, pemerataan pembangunan infrastruktur, serta perluasan partisipasi masyarakat.
Salah satu program yang menjadi penekanannya ialah transparansi anggaran. Ia menginginkan pengelolaan APBDes, pelaksanaan pembangunan, hingga pertanggungjawaban pemerintah desa dilakukan secara terbuka agar masyarakat dapat mengetahui penggunaan anggaran dan hasil pembangunan.
Nomor urut 3, Lasmanah, mengedepankan pemerintahan yang bersih dan transparan, pembangunan berkelanjutan, pelayanan prima, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta semangat PIKA yang mencakup kepedulian, inovasi, kolaborasi, dan keaktifan.
Pengalamannya cukup beragam, mulai dari bekerja di sektor swasta hingga mengemban tanggung jawab di lingkungan pemerintahan desa. Ia pernah menjadi Ketua RT pada 2013, Kepala Dusun pada 2015, serta bertugas di bidang pelayanan Pemerintah Desa pada 2016. Pengalaman organisasi kepemudaan juga menjadi salah satu bekal yang dibawanya.
Dalam penyampaiannya, Lasmanah menekankan bahwa perbedaan pilihan politik tidak seharusnya memutus hubungan persaudaraan masyarakat.
“Hari ini saya berdiri bukan karena merasa paling hebat. Berbeda pilihan kita tetap bersaudara. Kalau mau perubahan, pilih nomor tiga,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kompetisi dalam Pilkades seharusnya berlangsung secara sehat, tanpa menghilangkan rasa saling menghormati antarsesama warga.
Nomor urut 4, Tita Tarina, menawarkan visi untuk mewujudkan Desa Tarikolot yang maju, mandiri, sejahtera, berdaya saing, dan berbudaya melalui pemerintahan yang melayani, partisipatif, serta berkeadilan.
Dengan pengalaman sebagai Kaur Keuangan Pemerintah Desa sejak 2016 dan keterlibatan dalam organisasi PKK Kecamatan serta organisasi perempuan, Tita menyoroti sejumlah bidang pembangunan. Di antaranya peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi masyarakat, pembangunan infrastruktur, pelayanan kesehatan, pemberdayaan perempuan dan pemuda, pelestarian budaya, serta penguatan gotong royong.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga persatuan setelah proses pemilihan berakhir.
“Bagi saya, setelah pemilihan selesai, semua adalah warga saya. Tidak ada pendukung nomor 1, 2, 3, 4. Saya akan bersilaturahmi kembali ke semua warga, karena mereka semua adalah warga Desa Tarikolot yang harus saya layani,” ungkapnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa kepala desa terpilih nantinya memiliki tanggung jawab kepada seluruh masyarakat, bukan hanya kepada kelompok yang memberikan dukungan saat pemilihan.
Enam amplop pertanyaan, menguji kesiapan calon
Salah satu bagian penting dalam kampanye dialogis tersebut adalah sesi pertanyaan melalui amplop yang disiapkan panitia. Terdapat enam amplop berisi persoalan seputar tata kelola pemerintahan, pembinaan masyarakat, pemberdayaan, dan pembangunan desa.
Dalam mekanisme yang diterapkan, setiap calon diberikan waktu tiga menit untuk menjawab pertanyaan yang diterimanya. Format ini mendorong para calon menyampaikan jawaban secara terarah, padat, dan berorientasi pada penyelesaian masalah.
Yudi Hidayat mendapat pertanyaan mengenai cara memastikan anggaran desa dikelola secara transparan, tepat sasaran, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia menekankan musyawarah sejak tahap perencanaan hingga pengawasan, dengan melibatkan tokoh pemuda dan berbagai unsur masyarakat. Menurutnya, pemerintah desa harus menjalankan amanah yang diberikan rakyat.
Sementara itu, Cicim Heriyanto diminta mengidentifikasi tiga persoalan mendesak di Desa Tarikolot serta langkah konkret pada tahun pertama kepemimpinannya.
Ia menyoroti perlunya peningkatan tata kelola dan pelayanan pemerintahan, keterbukaan anggaran, serta penguatan kesejahteraan dan ekonomi warga. Langkah yang ditawarkan meliputi peningkatan kapasitas perangkat desa sesuai tugas pokok dan fungsi, penerapan transparansi anggaran, serta pengawalan program strategis agar kebijakan terkait dana desa tetap memperhatikan kepentingan masyarakat.
Lasmanah memperoleh pertanyaan tentang strategi mendukung pendidikan, kegiatan kepemudaan, dan pengembangan potensi generasi muda. Ia menilai perhatian terhadap fasilitas pendidikan, pengaktifan kembali kegiatan Karang Taruna, serta pengembangan olahraga, seni, budaya, dan pelatihan berbasis potensi lokal perlu menjadi bagian dari program pembangunan.
Adapun Tita Tarina diminta menjelaskan langkah yang akan dilakukan untuk merangkul masyarakat yang tidak memilihnya apabila kelak terpilih menjadi kepala desa. Jawabannya menekankan pentingnya silaturahmi, pelayanan yang tidak diskriminatif, serta menghilangkan sekat antarkelompok pendukung setelah pemilihan selesai.
Jawaban keempat calon memperlihatkan bahwa persoalan desa membutuhkan lebih dari sekadar janji. Masyarakat perlu melihat bagaimana setiap gagasan diterjemahkan menjadi program yang terukur, sesuai kewenangan desa, memiliki sumber pendanaan yang jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kampanye dialogis menjadi ruang pendidikan politik
Kampanye dialogis Tarikolot menghadirkan sejumlah pelajaran penting bagi masyarakat.
Pertama, demokrasi harus memberi ruang bagi gagasan. Kesempatan menyampaikan visi-misi dan menjawab pertanyaan membantu warga membandingkan program tanpa harus terjebak dalam serangan pribadi atau persaingan yang memecah belah.
Kedua, pengalaman dan gagasan perlu dinilai secara seimbang. Latar belakang setiap calon berbeda, mulai dari pengalaman organisasi kepemudaan, birokrasi, pelayanan desa, hingga pemberdayaan perempuan. Namun, seluruhnya tetap perlu dinilai berdasarkan kapasitas, integritas, dan kemampuan merealisasikan program.
Ketiga, transparansi anggaran harus menjadi komitmen nyata. Keterbukaan APBDes, informasi pembangunan, serta laporan pertanggungjawaban merupakan bagian penting dari tata kelola pemerintahan yang baik. Masyarakat berhak memperoleh informasi sesuai ketentuan yang berlaku dan ikut mengawasi pelaksanaan pembangunan.
Keempat, persatuan masyarakat harus tetap terjaga. Perbedaan nomor pilihan tidak boleh berkembang menjadi permusuhan. Pilkades merupakan proses demokrasi untuk menentukan pemimpin, bukan alasan untuk memutus silaturahmi.
Kelima, partisipasi warga tidak berhenti di bilik suara. Masyarakat perlu mempelajari visi-misi calon, mengajukan pertanyaan yang relevan dengan persoalan di wilayahnya, serta mengawal pelaksanaan janji pembangunan setelah pemilihan selesai.
Panitia juga membuka sesi tanya jawab langsung dari audiens. Warga diberi kesempatan menyampaikan pertanyaan yang kemudian dijawab oleh para calon secara bergantian. Mekanisme tersebut menjadi ruang tambahan bagi masyarakat untuk menggali solusi atas persoalan yang mereka hadapi.
Bukan sekadar memilih pemimpin, tetapi menentukan arah desa
Kampanye dialogis Desa Tarikolot menunjukkan bahwa demokrasi tingkat desa dapat dijalankan melalui pendekatan yang mendidik, terbuka, dan mengutamakan penghormatan terhadap perbedaan.
Namun, kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh tertibnya acara kampanye. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana masyarakat memahami program yang ditawarkan, calon mampu menjelaskan langkah pelaksanaannya, dan pemimpin terpilih bersedia mempertanggungjawabkan amanah yang diberikan.
Bagi warga Tarikolot, pilihan pada Pilkades 2026 merupakan bagian dari penentuan arah pembangunan desa untuk periode 2026–2034. Karena itu, keputusan memilih sebaiknya didasarkan pada pertimbangan yang matang, rekam jejak, integritas, kemampuan memimpin, serta program yang realistis dan berpihak pada kepentingan bersama.
Siapa pun yang nantinya memperoleh kepercayaan masyarakat, tantangan berikutnya adalah membuktikan janji melalui kerja nyata, pelayanan yang adil, pengelolaan anggaran yang transparan, dan pembangunan yang manfaatnya dapat dirasakan seluruh warga.
STNews mengajak masyarakat untuk mengawal Pilkades Tarikolot dengan semangat demokrasi yang sehat, menjaga kondusivitas, menghormati perbedaan pilihan, serta menempatkan kepentingan desa di atas kepentingan kelompok.
Sebab, demokrasi yang baik bukan hanya tentang siapa yang menang, melainkan tentang bagaimana seluruh masyarakat tetap bersatu untuk membangun Desa Tarikolot yang lebih maju, mandiri, sejahtera, dan bermartabat.
Redaksi STNews — Independen Mengungkap Berita Berdasarkan Fakta.




