Maraknya Jamran Pramuka di Sumedang, Momentum Pembentukan Karakter atau Beban Terselubung?


Hari Pramuka 2026: Maraknya Jamran di Sumedang, Antara Pembentukan Karakter dan Beban Orang Tua


SUMEDANG, STNews - 14 Agustus 2026 – Peringatan Hari Pramuka ke-65 tahun ini di Kabupaten Sumedang berlangsung semarak. Berbagai kegiatan Jambore Ranting (Jamran) digelar di sejumlah kecamatan, melibatkan ratusan hingga ribuan peserta dari tingkat SD hingga SMP. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam menanamkan nilai kedisiplinan, kemandirian, serta semangat kebersamaan bagi generasi muda.


Di lapangan, suasana Jamran terlihat penuh antusias. Para peserta mengikuti berbagai kegiatan seperti lomba ketangkasan, penjelajahan alam, api unggun, hingga pembinaan karakter berbasis kepramukaan. Tak sedikit pihak yang mengapresiasi kegiatan ini sebagai sarana pendidikan nonformal yang efektif dalam membentuk mental dan jiwa kepemimpinan siswa.


Namun di balik semarak tersebut, muncul suara-suara kritis dari sejumlah orang tua. Mereka menilai bahwa penyelenggaraan Jamran di beberapa tempat mulai bergeser dari esensi awal, bahkan berpotensi menjadi beban tambahan, terutama dari sisi biaya.

“Pada dasarnya kami mendukung kegiatan Pramuka, karena ini penting untuk anak-anak. Tapi kalau biayanya terlalu besar, apalagi ditambah perlengkapan yang harus dibeli, tentu memberatkan,” ujar salah satu wali murid di wilayah Sumedang Timur.

Kritik ini bukan tanpa alasan. Di beberapa kasus, orang tua mengeluhkan adanya pungutan yang dinilai kurang transparan, mulai dari biaya pendaftaran, konsumsi, hingga atribut tambahan yang wajib dimiliki peserta. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa kegiatan yang seharusnya mendidik justru berpotensi menimbulkan kesenjangan dan tekanan ekonomi bagi keluarga.


Pengamat pendidikan menilai, kegiatan Jamran tetap harus dijaga sebagai ruang pembelajaran yang inklusif dan tidak diskriminatif. Esensi Pramuka yang menekankan kesederhanaan dan kemandirian seharusnya tidak tercederai oleh praktik yang berlebihan.

“Pramuka itu identik dengan sederhana, gotong royong, dan mandiri. Jangan sampai berubah menjadi kegiatan yang ‘mahal’ dan justru membebani orang tua,” ujarnya.

Penyelenggara di tingkat kwartir ranting maupun gugus depan diharapkan dapat melakukan evaluasi menyeluruh, terutama dalam hal perencanaan anggaran dan transparansi biaya. Selain itu, perlu ada pengawasan dari pihak terkait agar kegiatan tetap berjalan sesuai tujuan awal, yaitu mendidik tanpa memberatkan.


Momentum Hari Pramuka ini seharusnya menjadi refleksi bersama. Bahwa membangun karakter generasi muda tidak harus selalu dengan biaya tinggi, melainkan dengan kreativitas, kebersamaan, dan nilai-nilai luhur yang menjadi dasar gerakan Pramuka itu sendiri.


Dengan pengelolaan yang baik dan bijak, Jamran di Kabupaten Sumedang diharapkan tetap menjadi kegiatan positif yang membanggakan, tanpa meninggalkan beban bagi para orang tua siswa.

(Redaksi)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Definition List