Kajian Spiritual Islam | STNews
Oleh: M. A. Rahmat Setiawan
Sekjen Forum Media Sumedang Timur (FMST)
Sholat bukan sekadar rangkaian gerakan yang dilakukan lima kali sehari. Lebih dari itu, sholat adalah kesadaran yang terus hidup dalam diri seorang mukmin, mengawal setiap langkah, ucapan, pikiran, dan keputusan. Inilah yang oleh para ulama disebut sebagai "sholat daim", yakni sholat yang pengaruhnya terus berlangsung sepanjang waktu.
Banyak orang mampu berdiri, rukuk, sujud, dan membaca bacaan sholat dengan baik. Namun pertanyaan besarnya, apakah sholat itu benar-benar telah mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar?
Allah SWT berfirman:
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur'an), dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-'Ankabut: 45)
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran keberhasilan sholat bukan hanya pada kesempurnaan gerakannya, tetapi pada perubahan akhlak dan perilaku pelakunya.
Sholat daim berarti menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas kehidupan. Ketika muncul keinginan untuk menggunjing orang lain, hati segera berkata, "Tidak boleh." Saat muncul kesempatan mengambil sesuatu yang bukan haknya, nurani langsung mengingatkan, "Itu bukan milikku." Ketika muncul prasangka buruk, iri hati, atau amarah, hati segera mengerem sebelum dosa terjadi.
Inilah hakikat sholat yang sesungguhnya.
Sholat lima waktu merupakan kewajiban sekaligus latihan spiritual agar kesadaran kepada Allah terus terpelihara sepanjang hari. Seorang mukmin tidak hanya "sholat di masjid", tetapi juga sholat di pasar, di kantor, di rumah, di dapur, di ruang makan, bahkan saat sendirian sekalipun. Artinya, nilai-nilai sholat terus membimbing perilaku dalam setiap keadaan.
Allah SWT juga memuji orang-orang yang selalu menjaga hubungan dengan-Nya:
"...orang-orang yang mereka tetap mengerjakan sholatnya." (QS. Al-Ma'arij: 23)
Para ulama menjelaskan bahwa istiqamah dalam sholat bukan hanya menjaga waktunya, tetapi juga menjaga pengaruh sholat agar tetap hidup dalam perilaku sehari-hari.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amal seorang hamba pada hari kiamat adalah sholatnya. Jika sholatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Jika sholatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalnya." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah)
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang sangat indah:
"Bagaimana pendapat kalian jika di depan rumah salah seorang di antara kalian ada sungai, lalu ia mandi di sana lima kali setiap hari, apakah masih tersisa kotoran pada tubuhnya?" Para sahabat menjawab, "Tidak ada sedikit pun." Rasulullah bersabda, "Demikianlah perumpamaan sholat lima waktu. Allah menghapus dosa-dosa dengannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Sholat yang benar akan melahirkan pribadi yang jujur, amanah, rendah hati, penuh kasih sayang, serta takut melakukan kezaliman. Orang yang benar-benar memahami sholat tidak akan mudah melakukan korupsi, menipu, memfitnah, mengambil hak orang lain, ataupun menyebarkan kebencian.
Karena itu, marilah menjadikan sholat bukan hanya sebagai ritual lima waktu, tetapi sebagai kesadaran yang menyertai setiap detik kehidupan. Saat hendak berbicara, sholat mengingatkan. Saat hendak berpikir buruk, sholat menahan. Saat hendak berbuat maksiat, sholat menjadi rem yang menghentikan langkah.
Inilah hakikat Sholat Daim—sholat yang terus hidup dalam hati dan memancar dalam akhlak. Sebab, tujuan akhir sholat bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan membentuk manusia yang bertakwa, berakhlak mulia, serta terhindar dari segala perbuatan keji dan mungkar.
Wallahu a'lam bish-shawab.


