Mencari Hakikat Salat: Antara Gerakan, Kesadaran, dan Tauhid


KAJIAN SPIRITUAL ISLAM

Refleksi Mendalam tentang Makna "Aqīmūṣ-Ṣalāh" dalam Al-Qur'an


SUMEDANG, STNews – Sebuah kajian spiritual Islam mengajak umat untuk kembali merenungkan hakikat salat sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam Al-Qur'an. Kajian tersebut menekankan pentingnya memahami makna "aqīmūṣ-ṣalāh" (dirikanlah salat), bukan hanya menjalankan gerakan lahiriah, tetapi juga membangun kesadaran, keikhlasan, dan penghambaan kepada Allah SWT.


Dalam penyampaiannya, pemateri mengkritisi kecenderungan umat yang lebih berfokus pada tata cara lahiriah salat, namun belum sepenuhnya memahami tujuan utama ibadah tersebut, yaitu menghadirkan ingat kepada Allah (dzikrullah).


Allah SWT berfirman:

"Dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku." (QS. Taha: 14)

Ayat ini menjadi dasar bahwa tujuan utama salat adalah menghadirkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam hati seorang hamba.


Salat yang Mengubah Kehidupan

Pemateri mengajak jamaah untuk melakukan introspeksi. Mengapa banyak orang yang telah bertahun-tahun salat, tetapi masih dipenuhi kecemasan, kebencian, iri hati, bahkan jauh dari akhlak mulia?


Allah SWT telah menjelaskan:

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Kitab, dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sungguh mengingat Allah itu lebih besar." (QS. Al-'Ankabut: 45)

Menurut kajian tersebut, apabila salat belum memberikan pengaruh terhadap perilaku sehari-hari, maka setiap Muslim perlu terus memperbaiki kualitas salatnya dengan memperdalam ilmu, memperbaiki kekhusyukan, dan memahami tuntunan syariat.


Masjid sebagai Tempat Memakmurkan Iman

Pemateri juga mengangkat firman Allah SWT:

"Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah." (QS. At-Taubah: 18)

Dalam kajian tersebut disampaikan sebuah renungan spiritual bahwa selain memakmurkan masjid sebagai rumah ibadah, seorang mukmin juga perlu membangun "masjid" dalam dirinya, yaitu hati yang dipenuhi iman, takwa, dan kesadaran kepada Allah. Pemaknaan ini merupakan refleksi spiritual, sedangkan makna utama ayat menurut para mufasir tetap berkaitan dengan memakmurkan masjid Allah sebagai tempat ibadah dan syiar Islam.


Mencari Ilmu yang Mengantarkan kepada Tauhid

Kajian juga mengingatkan pentingnya mencari ilmu yang menguatkan keimanan kepada Allah.


Rasulullah SAW bersabda:

"Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah)

Ilmu yang dimaksud bukan sekadar pengetahuan dunia, tetapi juga ilmu yang mengantarkan manusia mengenal Allah, memperkokoh tauhid, dan memperbaiki ibadahnya.


Tauhid menjadi fondasi seluruh amal. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

"Sebaik-baik ucapan yang pernah aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah: 'Lā ilāha illallāh, wahdahu lā syarīka lah.'" (HR. Tirmidzi)

Kalimat tauhid inilah yang menjadi inti dakwah seluruh nabi dan rasul.


Meneladani Salat Rasulullah SAW

Kajian ini juga menjadi pengingat bahwa memahami makna batin salat tidak boleh dipisahkan dari tuntunan syariat yang diajarkan Rasulullah SAW.


Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat." (HR. Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa tata cara salat bersumber dari ajaran Rasulullah SAW dan diwariskan kepada para sahabat, kemudian diriwayatkan kepada generasi berikutnya. Karena itu, setiap upaya mendalami dimensi spiritual salat hendaknya tetap berpijak pada Al-Qur'an dan Sunnah.


Refleksi STNews

Kajian ini mengajak umat Islam untuk menjadikan salat sebagai jalan menuju perubahan diri. Salat bukan sekadar rutinitas lima waktu, tetapi sarana membangun hubungan yang lebih dekat dengan Allah SWT, memperbaiki akhlak, menenangkan hati, serta memperkuat tauhid.


Pada saat yang sama, penting dipahami bahwa beberapa pandangan yang disampaikan dalam kajian—misalnya mengenai sejarah perumusan fikih salat atau penafsiran simbolik tentang masjid—merupakan bagian dari sudut pandang pemateri dan tidak selalu mewakili pandangan mayoritas ulama. Dalam tradisi Islam, perbedaan pendapat adalah hal yang dikenal, sehingga setiap Muslim dianjurkan merujuk kepada Al-Qur'an, Sunnah yang sahih, serta penjelasan para ulama yang memiliki kompetensi.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.


Penulis:

M. A. Rahmat Setiawan, Sekjen Forum Media Sumedang Timur 

STNews – Independen Mengungkap Berita Berdasarkan Fakta

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Definition List