Kajian Islam STNews
Oleh: M. A. Rahmat Setiawan
Sekretaris Jenderal Forum Media Sumedang Timur (FMST)
SUMEDANG, STNews – Belakangan ini kembali beredar potongan video ceramah KH. Said Aqil Siradj yang menyampaikan bahwa selama 13 tahun menimba ilmu di Arab Saudi, ia pulang ke Indonesia dengan membawa ilmu, bukan budaya Arab. Pernyataan tersebut pada dasarnya mengajak umat Islam untuk mampu membedakan antara ajaran agama yang bersifat syariat dengan tradisi atau budaya suatu bangsa.
Islam memang diturunkan di Jazirah Arab, namun Al-Qur'an ditegaskan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia, bukan hanya bagi bangsa Arab.
Allah SWT berfirman:
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan." (QS. Saba' : 28)
Selain itu Allah juga berfirman:
"Wahai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal." (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa keberagaman budaya adalah bagian dari ketetapan Allah. Islam hadir untuk memperbaiki akhlak dan membimbing manusia, bukan menghapus seluruh budaya yang tidak bertentangan dengan syariat.
Namun demikian, penting dipahami bahwa memakai gamis, berjenggot, atau mengenakan cadar tidak dapat disimpulkan hanya sebagai "budaya Arab" semata. Sebagian umat Islam memakainya sebagai pilihan budaya, sebagian lagi karena memahami adanya dasar-dasar keagamaan dari Al-Qur'an, hadis, atau pendapat ulama. Karena itu, praktik-praktik tersebut merupakan wilayah yang memiliki perbedaan pandangan (ikhtilaf) di kalangan ulama dan tidak tepat dijadikan ukuran keimanan ataupun bahan untuk saling merendahkan.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim)
Hadis ini mengingatkan bahwa ukuran utama seorang muslim adalah ketakwaan, akhlak, dan amal salehnya, bukan semata-mata penampilan lahiriah.
Pesan yang dapat dipetik dari ceramah KH. Said Aqil Siradj adalah pentingnya mengambil substansi ilmu ketika belajar agama. Belajar ke Arab, Mesir, Madinah, Makkah, maupun ke negara lain adalah sesuatu yang baik. Yang lebih utama adalah membawa pulang ilmu, hikmah, akhlak, serta semangat membangun bangsa.
Islam di Indonesia telah berkembang melalui dakwah para ulama dan Wali Songo dengan pendekatan yang damai, santun, dan menghargai budaya lokal selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Karena itu, menjaga budaya bangsa dan mengamalkan syariat bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.
STNews mengajak masyarakat untuk menyikapi perbedaan dengan ilmu dan adab. Jangan mudah menghakimi seseorang hanya karena penampilannya, baik yang mengenakan gamis, berjenggot, bercadar, maupun yang berpakaian sederhana. Yang terpenting adalah saling menghormati, menjaga ukhuwah, serta menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman dengan pemahaman yang bijaksana.
(Red)


