Kajian Islam STNews
Iman dan Akal Berjalan Beriringan, Bukan Dipertentangkan
SUMEDANG, STNews – Salah satu keistimewaan Al-Qur'an adalah ajakannya yang terus-menerus kepada manusia untuk menggunakan akal, merenung, dan mengambil pelajaran dari setiap tanda kebesaran Allah. Para ulama dan cendekiawan menyebut bahwa terdapat sekitar 750 hingga 800 ayat Al-Qur'an yang mengajak manusia untuk berpikir, merenung (tafakkur), memahami (ta'aqqul), dan mentadabburi ayat-ayat Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang menghendaki keimanan tanpa ilmu, melainkan menggabungkan keimanan dengan akal sehat.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS. Ali 'Imran: 190)
Pada ayat berikutnya Allah menjelaskan ciri orang beriman:
"Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, maupun berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi..." (QS. Ali 'Imran: 191)
Al-Qur'an juga menegaskan:
"Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang mempunyai akal mengambil pelajaran." (QS. Shad: 29)
Bahkan Allah berkali-kali mengajukan pertanyaan yang menggugah hati manusia, seperti:
"Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur'an?" (QS. An-Nisa: 82)
dan
"Apakah kamu tidak berpikir?" (Afala ta'qilun – terdapat dalam berbagai ayat Al-Qur'an).
Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya memahami Al-Qur'an, bukan sekadar membacanya. Beliau bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari).
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim).
M. A. Rahmat Setiawan, Sekretaris Jenderal Forum Media Sumedang Timur (FMST), mengatakan bahwa keimanan yang kokoh lahir dari hati yang bersih dan akal yang digunakan untuk merenungi kebesaran Allah.
"Al-Qur'an tidak hanya memerintahkan kita untuk membaca, tetapi juga berpikir, memahami, dan mengambil hikmah dari setiap ayat-Nya. Semakin seseorang bertafakkur, semakin kuat pula keimanannya. Islam mengajarkan keseimbangan antara wahyu dan akal, sehingga seorang mukmin mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman," ujarnya.
Menurutnya, umat Islam hendaknya menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup yang dipahami maknanya, bukan sekadar dibaca untuk memperoleh pahala.
Kajian ini menjadi pengingat bahwa keimanan sejati tidak berhenti pada pengakuan lisan, tetapi diwujudkan melalui ilmu, perenungan, dan amal saleh. Al-Qur'an mengajak manusia untuk melihat alam semesta, sejarah, serta dirinya sendiri sebagai bukti kekuasaan Allah SWT. Dengan demikian, lahirlah pribadi muslim yang beriman, berilmu, bijaksana, dan mampu memberikan manfaat bagi sesama.
Wallahu a'lam bish-shawab.


