Menggali Makna Kesadaran dalam Perintah Allah SWT
Oleh: M. A. Rahmat Setiawan Sekjen Forum Media Sumedang Timur
SUMEDANG, STNews – Sebuah kajian spiritual Islam mengajak umat untuk kembali merenungkan makna mendalam dari perintah Allah SWT mengenai salat. Dalam kajian tersebut disampaikan bahwa Al-Qur'an tidak hanya memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan salat, tetapi secara tegas menggunakan istilah "aqīmūṣ-ṣalāh" yang berarti "dirikanlah salat."
Pemateri mengajak jamaah untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah selama ini salat yang dilakukan sudah benar-benar memenuhi makna "mendirikan", atau baru sebatas menjalankan rutinitas ibadah secara lahiriah.
Allah SWT berfirman:
"Dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku." (QS. Taha: 14)
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa kata "mendirikan" dipahami sebagai upaya membangun kesadaran penuh kepada Allah SWT sebelum seseorang melaksanakan rangkaian gerakan salat. Dengan demikian, salat tidak hanya menjadi aktivitas fisik, tetapi juga perjalanan hati dan jiwa untuk menghadirkan Allah dalam setiap gerakan dan bacaan.
Pemateri juga mengaitkan hal tersebut dengan firman Allah SWT:
"Bacalah Kitab yang telah diwahyukan kepadamu dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sungguh, mengingat Allah (dzikrullah) itu lebih besar." (QS. Al-'Ankabut: 45)
Menurut pemateri, ayat tersebut menunjukkan adanya hubungan erat antara memahami petunjuk Allah dan mendirikan salat yang mampu membentuk akhlak serta menjauhkan seseorang dari kemungkaran.
Kajian juga menyinggung firman Allah:
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati salat ketika kamu dalam keadaan mabuk hingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan." (QS. An-Nisa': 43)
Dalam penyampaiannya, pemateri memberikan penafsiran spiritual bahwa kondisi "mabuk" dapat dipahami sebagai keadaan ketika seseorang belum sepenuhnya sadar terhadap apa yang diucapkan dan kepada siapa ia beribadah. Penafsiran ini merupakan sudut pandang kajian spiritual yang disampaikan dalam forum tersebut. Sementara itu, mayoritas ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat tersebut pada konteks turunnya memang berkaitan dengan larangan salat dalam keadaan mabuk karena minuman keras sebelum khamar diharamkan secara total.
Pemateri kemudian mengajak jamaah untuk mengenal hakikat diri melalui sebuah perumpamaan. Manusia diibaratkan seperti langit, sedangkan berbagai pikiran, emosi, dan persoalan hidup hanyalah awan yang datang dan pergi. Langit tetap ada meskipun awan berubah-ubah. Demikian pula manusia diajak mengenali kesadaran yang tetap mengingat Allah di balik perubahan keadaan hidup.
Pesan utama kajian ini adalah bahwa ibadah salat hendaknya tidak berhenti pada aspek gerakan dan bacaan semata, melainkan menghadirkan kekhusyukan, kesadaran, serta hubungan yang mendalam dengan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)»
Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:
"Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat." (HR. Bukhari)»
Kedua hadis tersebut menjadi pengingat bahwa salat memiliki dua dimensi yang tidak dapat dipisahkan, yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah SAW secara benar sekaligus menghadirkan niat, keikhlasan, dan kekhusyukan dalam menghadap Allah SWT.
Kajian ini menjadi bahan renungan bagi umat Islam agar senantiasa memperbaiki kualitas salat, memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur'an melalui bimbingan ilmu yang benar, serta menjadikan salat sebagai sarana untuk selalu mengingat Allah dan membentuk akhlak yang mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.


