Kajian Spiritual Islami STNews
SUMEDANG, STNews – Dalam perjalanan hidup, tidak sedikit orang merasa kehidupannya semakin rumit. Padahal, kerumitan itu sering kali bukan karena kenyataan yang terlalu berat, melainkan karena cara manusia memahami kenyataan yang terbalik. Kita cenderung memaksa pemahaman untuk membentuk kenyataan, padahal semestinya rasa, pengalaman, dan kenyataanlah yang membentuk pemahaman.
Islam mengajarkan bahwa setiap peristiwa yang Allah tetapkan mengandung hikmah. Ketika seseorang mampu menerima setiap ketentuan Allah dengan hati yang lapang, maka akan lahir ketenangan yang tidak dapat dibeli oleh apa pun.
Allah SWT berfirman:
"...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa keterbatasan manusia sering kali membuat kita menilai sesuatu hanya dari sudut pandang sesaat. Sementara Allah SWT mengetahui seluruh rangkaian takdir yang terbaik bagi hamba-Nya.
Dalam sebuah catatan perjalanan spiritual sekitar tahun 2013 ketika mengunjungi Kota Palu, Abang Guru pernah menyampaikan sebuah kalimat yang begitu mendalam saat pesawat mulai menurunkan ketinggian.
"Apabila rasa ini diterjemahkan dengan pengetahuan, maka efeknya akan sangat luar biasa."
Kalimat singkat itu mengandung makna bahwa manusia sesungguhnya telah dianugerahi rasa yang begitu agung oleh Allah SWT. Namun, rasa itu sering berhenti sebatas simbol, kebiasaan, atau dogma. Padahal apabila rasa syukur, rasa ikhlas, dan rasa kehadiran Allah diterjemahkan menjadi pemahaman yang benar, maka kehidupan akan dipenuhi ketenangan dan kebijaksanaan.
Allah SWT kembali menegaskan:
"Sesungguhnya hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Ketenangan bukan lahir dari terpenuhinya seluruh keinginan manusia, melainkan dari hati yang menerima keputusan Allah dengan penuh keikhlasan.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang baru mengingat Allah ketika memiliki kebutuhan atau sedang menghadapi kesulitan. Padahal seorang mukmin diperintahkan untuk selalu menghadirkan Allah dalam setiap keadaan, baik ketika lapang maupun sempit.
Allah SWT berfirman:
"Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS. An-Nisa: 19)
Ayat tersebut mengajarkan bahwa tidak semua yang tertunda adalah penolakan. Tidak semua yang belum hadir berarti hilang. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan waktu terbaik agar nikmat yang diberikan benar-benar membawa keberkahan.
Rasulullah SAW juga bersabda:
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh nikmat ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa musibah ia bersabar, maka itu pun baik baginya." (HR. Muslim).
Oleh karena itu, seorang mukmin tidak perlu mempersulit pikirannya dengan tuntutan agar semua berjalan sesuai keinginannya. Sebab keinginan manusia sendiri lahir atas izin Allah SWT. Dialah yang membolak-balikkan hati, mengatur waktu, dan menentukan kapan sebuah doa layak dikabulkan.
Menunggu dengan sabar bukan berarti menyerah, melainkan bentuk keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah menetapkan waktu. Apa yang sedang kita nantikan sesungguhnya tidak sedang menghilang, tetapi sedang berjalan menuju waktu terbaik yang telah Allah tetapkan.
Semoga setiap peristiwa yang Allah hadirkan mampu menguatkan rasa syukur, menumbuhkan kesabaran, serta mengantarkan kita menjadi hamba yang semakin dekat kepada-Nya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Disusun oleh:
M. A. Rahmat Setiawan
Sekretaris Jenderal Forum Media Sumedang Timur (FMST)


