![]() |
| Foto Ilustrasi by AI |
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Investigasi CyberTipikor, isu yang berkembang di masyarakat sebelumnya mengarah pada dugaan kualitas makanan yang tidak layak. Bahkan sempat muncul keterangan dari salah satu siswa berinisial F (kelas VIII) yang menyebut adanya telur berbau.
Namun, klarifikasi resmi dari pihak SPPG memberikan sudut pandang berbeda.
Distribusi dan Pengecekan Sudah Berjalan Sesuai Mekanisme
Perwakilan SPPG, SPPI Soleh, menegaskan bahwa seluruh proses distribusi MBG telah dilakukan sesuai dengan standar operasional.
Setiap paket makanan yang dikirim ke sekolah, lanjutnya, tidak langsung dibagikan begitu saja. Melainkan melalui tahapan pengecekan oleh pihak sekolah.
“Sebelum dibagikan ke siswa, menu sudah dicek oleh koordinator sekolah. Ada bukti checklist dan tanda tangan sebagai bentuk verifikasi kelayakan konsumsi,” jelasnya.
Dokumen berita acara penerimaan serta formulir uji organoleptik yang ditunjukkan kepada tim investigasi juga memperkuat bahwa proses pengawasan berjalan.
Mitra SPPG: Perlu Informasi yang Berimbang
Keterangan senada disampaikan oleh Ibu Dian, selaku mitra MBG. Ia menilai bahwa pemberitaan harus mengedepankan keseimbangan informasi.
Menurutnya, tidak adil jika hanya sisi kekurangan yang diangkat, tanpa melihat fakta bahwa dalam banyak kesempatan menu MBG juga diterima dengan baik oleh siswa.
“Kami terus menerima masukan dan melakukan penyesuaian menu. Tapi perlu juga disampaikan jika program ini berjalan baik,” ujarnya.
Fakta Lapangan: Siswa Tidak Menghabiskan Karena Ingin Cepat Pulang
Hasil konfirmasi lanjutan ke pihak sekolah mengungkap bahwa penyebab utama banyaknya makanan yang tidak dikonsumsi bukan karena kualitas.
Pihak sekolah memberikan keterangan bahwa tidak ada makanan basi. Adapun sisa makanan yang diberitakan 1000 lebih tidak dimakan itu tidak benar. Hanya sekitar 100 ompreng yang tidak dimakan oleh siswa dan hanya diambil susu dan buahnya saja, Selasa (07/04/2026)
Sebaliknya, ditemukan bahwa:
- Sejumlah siswa memilih tidak menyantap makanan utama
- Mereka hanya mengambil bagian tertentu seperti susu dan buah
- Alasan dominan adalah ingin segera pulang setelah kegiatan sekolah
Meski demikian, tidak semua siswa melakukan hal serupa. Sebagian tetap mengonsumsi makanan yang disediakan.
SPPG Buka Ruang Aduan dan Evaluasi
Pihak SPPG menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas layanan program MBG.
Selain membuka hotline pengaduan masyarakat, mereka juga akan melakukan evaluasi lanjutan bersama pihak sekolah guna memastikan distribusi dan konsumsi makanan berjalan lebih optimal.
Catatan STNews
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dalam setiap program publik, diperlukan sinergi antara penyedia, pelaksana di lapangan, serta penerima manfaat.
Kesimpulan sementara menunjukkan bahwa persoalan yang terjadi lebih dipengaruhi oleh perilaku siswa, bukan semata kualitas makanan.
Namun demikian, evaluasi berkelanjutan tetap diperlukan agar tujuan utama program MBG dalam meningkatkan gizi pelajar dapat tercapai secara maksimal.
(STNews | Investigasi CyberTipikor)


