SUMEDANG, STNews – Semangat pelestarian budaya lokal kembali digaungkan melalui kegiatan Safari Budaya Seni Tradisi Gemyung-Bangreng dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Kegiatan yang digagas Yayasan Padepokan Mandala Harja Sumedang ini digelar di tiga kecamatan, yakni Cisarua, Cimalaka, dan Paseh, sejak 20 Agustus hingga 6 September 2026.
Total terdapat delapan titik kegiatan, dengan rincian empat kegiatan di Kecamatan Paseh, dua di Kecamatan Cimalaka, dan dua lainnya di Kecamatan Cisarua. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi, terutama karena seni tradisi Gemyung-Bangreng dinilai sebagai bagian penting dari identitas budaya lokal yang harus terus dijaga.
Namun di balik semarak kegiatan tersebut, muncul sorotan terkait minimnya perhatian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang. Pihak penyelenggara mengaku telah mengajukan proposal secara resmi, namun hingga pelaksanaan berakhir, tidak ada tanggapan maupun dukungan nyata dari pihak terkait.
“Secara legalitas yayasan kami jelas, kegiatan ini juga murni untuk pelestarian budaya sekaligus memeriahkan HUT RI. Tapi sangat disayangkan, proposal yang kami ajukan ke Pemda Sumedang tidak mendapat respon,” ungkap Ucup Wahyu Ranta Sunarya, pengurus Yayasan Padepokan Mandala Harja sekaligus Humas Pepadi Jawa Barat.
Menurutnya, kondisi ini menjadi ironi di tengah gencarnya narasi pelestarian budaya daerah. Ia menilai, seharusnya kegiatan berbasis kearifan lokal seperti ini mendapat perhatian serius, baik dari sisi pembinaan maupun dukungan anggaran.
“Kalau bukan kita yang menjaga seni tradisi, siapa lagi? Tapi tentu kami berharap ada sinergi dengan pemerintah. Jangan sampai pelaku seni berjalan sendiri,” tambahnya.
Ketiadaan respon dari Pemda dinilai berpotensi melemahkan semangat komunitas budaya dalam menjaga warisan leluhur. Padahal, kegiatan seperti ini tidak hanya berdampak pada pelestarian seni, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat dan memperkuat identitas daerah.
Sejumlah pelaku seni berharap ke depan pemerintah daerah lebih responsif terhadap inisiatif masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan pelestarian budaya lokal. Dukungan konkret dinilai menjadi kunci agar tradisi seperti Gemyung-Bangreng tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah arus modernisasi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang terkait tidak adanya respon terhadap proposal kegiatan tersebut.
(Rahmat Setiawan)




