Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan


 

Iklan


 

Indeks Berita

Tag Terpopuler

“Pasundan” Lebih dari Sekadar Nama, Ini Soal Identitas Jawa Barat

Selasa, 25 Agustus 2026 | Agustus 25, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-25T11:16:24Z


Opini STNews oleh M. A. Rahmat Setiawan Sekjen Forum Media Sumedang Timur 


Wacana perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Pasundan kembali mengemuka. Isu ini bukan sekadar romantisme sejarah atau sentimen kedaerahan, melainkan menyentuh akar identitas, budaya, dan jati diri masyarakat yang telah hidup berabad-abad di wilayah ini.


Secara historis, wilayah yang kini dikenal sebagai Jawa Barat sejatinya telah lama disebut sebagai Tatar Sunda atau Pasundan—sebuah kawasan yang menjadi pusat peradaban Sunda sejak era Kerajaan Tarumanagara hingga Pajajaran. Bahkan, sebelum istilah “Jawa Barat” digunakan secara administratif oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1925, masyarakat pribumi telah mengenal wilayah ini sebagai Pasundan.


Nama “Jawa Barat” sendiri lahir dari kebutuhan administratif kolonial yang membagi Pulau Jawa menjadi wilayah barat, tengah, dan timur. Artinya, penamaan tersebut lebih bersifat geografis-politik, bukan kultural. Di sisi lain, istilah “Pasundan” justru mengandung nilai historis, filosofis, dan identitas etnis yang kuat bagi masyarakat Sunda.


Fakta lain yang tak bisa diabaikan, mayoritas penduduk di Jawa Barat adalah etnis Sunda dengan bahasa, adat, dan nilai budaya yang khas. Dalam konteks ini, muncul pertanyaan besar: apakah nama “Jawa Barat” masih relevan untuk merepresentasikan identitas masyarakatnya?


Sejak era 1920-an, tokoh-tokoh Sunda melalui Paguyuban Pasundan telah memperjuangkan agar wilayah ini menggunakan nama “Pasundan”. Bahkan dalam catatan sejarah, istilah Pasundan pernah diakui secara resmi sebagai sebutan bagi Jawa Barat dalam bahasa pribumi. Ini menunjukkan bahwa gagasan tersebut bukan hal baru, melainkan aspirasi panjang yang terus hidup hingga kini.


Dalam perkembangan terbaru, wacana perubahan nama kembali mendapatkan perhatian serius. Sejumlah kalangan menilai bahwa pergantian nama menjadi “Pasundan” bukan sekadar simbol, tetapi bentuk pengakuan terhadap kesinambungan sejarah dan peradaban Sunda.


Namun demikian, perubahan nama provinsi tentu bukan perkara sederhana. Jawa Barat hari ini adalah wilayah yang multikultural, dihuni oleh berbagai suku bangsa dari seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pendekatan yang inklusif dan dialog terbuka menjadi kunci agar wacana ini tidak menimbulkan perpecahan.


Opini ini memandang bahwa penggunaan nama “Pasundan” memiliki dasar historis dan kultural yang kuat. Ia bukan sekadar nama, tetapi representasi identitas. Namun, dalam negara yang menjunjung tinggi keberagaman seperti Indonesia, setiap perubahan harus mempertimbangkan seluruh elemen masyarakat.


Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu dijawab bersama bukan hanya “apa nama yang tepat”, tetapi juga “nilai apa yang ingin kita jaga dan wariskan?”.


Apakah kita akan tetap menggunakan nama yang lahir dari konstruksi administratif kolonial, atau berani kembali pada akar sejarah dan budaya yang telah menghidupi masyarakatnya selama berabad-abad?


STNews menilai, diskursus ini layak untuk terus dikaji secara serius, terbuka, dan bijak—demi menemukan titik temu antara identitas, sejarah, dan masa depan Jawa Barat.


(Redaksi STNews)

×
Berita Terbaru Update