Oleh: M. A. Rahmat Setiawan
Sekjen Forum Media Sumedang Timur (FMST)
SUMEDANG, STNews - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sering merasa telah melihat, mendengar, berbicara, berjalan, dan bertindak. Namun, sebuah ungkapan tajam menggugah kesadaran kita:
“Mata melihat tapi buta, telinga mendengar tapi tuli, mulut bicara tapi bisu, kaki berjalan tapi lumpuh, tangan bergerak tapi tak bergerak.”
Apakah ini sekadar sindiran? Ataukah fakta spiritual yang sesungguhnya?
Dalam kajian spiritual makrifat, ungkapan ini bukan sekadar retorika, melainkan cermin kondisi batin manusia yang jauh dari kesadaran Ilahi.
Hakikat “Buta” dalam Pandangan Al-Qur’an
Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”
(QS. Al-Hajj: 46)
Ayat ini menjelaskan bahwa kebutaan sejati bukanlah pada fisik, melainkan pada hati. Banyak manusia mampu melihat realitas dunia, tetapi gagal memahami makna kehidupan. Mereka menyaksikan kebenaran, namun menolaknya.
Telinga yang Tuli dan Hati yang Tertutup
Allah SWT juga berfirman:
“Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar.”
(QS. Al-A’raf: 179)
Fenomena ini nyata di tengah masyarakat. Informasi berlimpah, ceramah tersedia di mana-mana, namun hati tetap tertutup. Telinga mendengar, tetapi tidak sampai ke kesadaran.
Bicara Tanpa Makna: Mulut yang “Bisu”
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Banyak manusia berbicara, tetapi kosong dari kebenaran. Kata-kata menjadi alat kepentingan, bukan penyampai hikmah. Inilah makna “mulut bicara tapi bisu”—suara ada, namun nilai hilang.
Kaki dan Tangan yang Kehilangan Arah
Secara fisik manusia berjalan dan bergerak, tetapi tanpa tujuan Ilahi. Hidup hanya berputar pada dunia: jabatan, materi, dan ambisi.
Padahal Allah mengingatkan:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ketika tujuan hidup tidak lagi berorientasi kepada Allah, maka setiap langkah menjadi hampa. Kaki berjalan, tapi lumpuh arah. Tangan bergerak, tapi tak menghasilkan makna.
Makrifat: Jalan Menuju Kesadaran Sejati
Makrifat adalah mengenal Allah dengan hati yang hidup. Dalam dimensi ini, manusia tidak hanya melihat dengan mata, tetapi dengan nurani.
Orang yang telah mencapai kesadaran makrifat:
- Melihat tanda-tanda Allah dalam setiap kejadian
- Mendengar kebenaran dengan hati yang tunduk
- Berbicara dengan hikmah
- Melangkah dengan tujuan ibadah
- Bertindak dengan keikhlasan
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis qudsi:
“...Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memegang, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan...”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan puncak spiritualitas: ketika seluruh anggota tubuh digerakkan oleh kesadaran Ilahi.
Sindiran atau Fakta?
Ungkapan di awal bukan sekadar sindiran, melainkan fakta spiritual yang terjadi pada banyak manusia hari ini. Kehidupan yang jauh dari nilai Ilahi menjadikan manusia hidup secara fisik, tetapi mati secara batin.
Penutup
Kajian ini mengajak kita untuk merenung:
- Apakah kita benar-benar melihat?
- Apakah kita benar-benar mendengar?
- Apakah kita benar-benar hidup?
Makrifat mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar bergerak, tetapi sadar akan kehadiran Allah dalam setiap detik kehidupan.
Sudah saatnya kita membuka mata hati, agar tidak termasuk golongan yang “hidup namun mati”.
STNews – Independen Mengungkap Berita Berdasarkan Fakta

