Kajian Edukasi STNews
Disusun oleh: M. A. Rahmat Setiawan, Sekretaris Jenderal Forum Media Sumedang Timur (FMST)
Pendahuluan
Belakangan ini beredar luas di media sosial potongan kajian yang dikaitkan dengan beberapa tokoh, di antaranya KH. Said Aqiel Siradj, KH. Achmad Chodjim, dan KH. Abah Setu. Dalam kajian tersebut muncul pernyataan bahwa Al-Qur'an tidak secara eksplisit memerintahkan sholat lima waktu sebagaimana yang dipraktikkan umat Islam saat ini.
Pernyataan tersebut memunculkan berbagai tanggapan, mulai dari yang menerima sebagai bahan kajian hingga yang menolaknya karena dianggap bertentangan dengan pemahaman mayoritas umat Islam.
Sebagai umat yang mengedepankan ilmu dan adab dalam berdiskusi, penting untuk memahami persoalan ini secara utuh dan tidak hanya berdasarkan potongan video atau kutipan singkat.
Sholat dalam Al-Qur'an
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa Al-Qur'an berkali-kali memerintahkan umat Islam untuk mendirikan sholat.
Allah SWT berfirman:
"Dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk." (QS. Al-Baqarah: 43)
Ayat lain menyebutkan:
"Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa: 103)
Dari ayat-ayat tersebut jelas bahwa sholat merupakan kewajiban yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang Muslim.
Apakah Al-Qur'an Menyebut Lima Waktu Sholat Secara Eksplisit?
Inilah titik utama yang menjadi bahan diskusi.
Memang benar bahwa Al-Qur'an tidak menyebutkan secara langsung nama-nama sholat seperti:
- Subuh
- Zuhur
- Ashar
- Maghrib
- Isya
Al-Qur'an juga tidak menjelaskan secara rinci:
- Jumlah rakaat setiap sholat
- Tata cara takbiratul ihram
- Bacaan tasyahud
- Rukun-rukun sholat secara lengkap
Namun Al-Qur'an memberikan petunjuk waktu-waktu sholat dalam beberapa ayat, di antaranya:
"Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikan pula sholat) Subuh." (QS. Al-Isra: 78)
Kemudian:
"Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu petang dan pagi." (QS. Ar-Rum: 17)
Mayoritas ulama menafsirkan kumpulan ayat-ayat tersebut sebagai petunjuk yang mengarah kepada lima waktu sholat.
Mengapa Hadis Menjadi Penting?
Dalam Islam, sumber hukum tidak hanya Al-Qur'an, tetapi juga Sunnah Nabi Muhammad SAW.
Allah SWT berfirman:
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7)
Nabi Muhammad SAW juga bersabda:
"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat." (HR. Bukhari)
Hadis inilah yang menjelaskan secara rinci tata cara pelaksanaan sholat yang tidak dijelaskan secara detail dalam Al-Qur'an.
Karena itu, mayoritas ulama Ahlussunnah wal Jamaah sejak generasi sahabat hingga sekarang meyakini bahwa kewajiban sholat lima waktu bersumber dari Al-Qur'an yang diperjelas oleh Sunnah Nabi.
Apakah Penafsiran Ulama Bersifat Subjektif?
Dalam kajian keilmuan Islam, perbedaan penafsiran memang merupakan hal yang wajar.
Namun perlu dipahami bahwa penafsiran ulama tidak dilakukan secara sembarangan. Mereka menggunakan metode ilmiah yang disebut:
- Tafsir
- Ushul Fiqih
- Ilmu Hadis
- Ilmu Bahasa Arab
- Asbabun Nuzul
Karena itu, perbedaan pandangan harus disikapi sebagai khazanah intelektual Islam, bukan alasan untuk saling menyalahkan atau mengkafirkan.
Esensi Sholat yang Sering Terlupakan
Terlepas dari perdebatan jumlah waktu atau aspek historisnya, ada pesan penting yang sering disampaikan para ulama dan cendekiawan.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar." (QS. Al-Ankabut: 45)
Ayat ini menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan sholat bukan hanya gerakan fisik, tetapi juga perubahan akhlak dan perilaku.
Sholat yang benar seharusnya melahirkan:
- Kejujuran
- Disiplin
- Kesabaran
- Kepedulian sosial
- Ketakwaan kepada Allah SWT
Jika seseorang rajin sholat tetapi masih gemar berbohong, korupsi, menzalimi orang lain, atau menyebarkan fitnah, maka ia perlu melakukan introspeksi terhadap kualitas sholatnya.
Menyikapi Perbedaan dengan Bijaksana
Di era media sosial, potongan video sering kali dipahami tanpa konteks yang lengkap. Oleh karena itu, umat Islam perlu:
- Memeriksa sumber informasi secara utuh.
- Membaca Al-Qur'an beserta tafsirnya.
- Memahami hadis-hadis shahih.
- Bertanya kepada ulama yang kompeten.
- Mengedepankan adab dalam perbedaan pendapat.
Islam mengajarkan dialog ilmiah, bukan permusuhan karena perbedaan pandangan.
Kesimpulan
Perdebatan mengenai sholat lima waktu bukanlah persoalan baru dalam kajian Islam. Al-Qur'an secara tegas memerintahkan sholat, sementara rincian tata cara dan jumlah waktunya dijelaskan melalui Sunnah Nabi Muhammad SAW yang kemudian dipahami dan diwariskan oleh para ulama.
Yang terpenting bagi umat Islam bukan sekadar memperdebatkan jumlah atau teknis pelaksanaannya, melainkan bagaimana menjadikan sholat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT serta membentuk pribadi yang jujur, amanah, dan bermanfaat bagi sesama.
Sebagaimana firman Allah SWT:
"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam sholatnya." (QS. Al-Mu'minun: 1-2)
Wallahu a'lam bish-shawab.
STNews – Sumedang Timur News
Independen Mengungkap Berita Berdasarkan Fakta
Kajian Edukasi Keislaman oleh M. A. Rahmat Setiawan
Sekjen Forum Media Sumedang Timur (FMST)


