Kajian Spiritual Islam Oleh M. A. Rahmat Setiawan Sekjen FMST
Dalam perjalanan hidup, tidak semua takdir datang sesuai harapan. Ada luka yang harus dipeluk, air mata yang jatuh diam-diam, dan hati yang harus belajar lapang menerima segala ketetapan-Nya. Nilai inilah yang tergambar dalam refleksi spiritual Islami yang mengajak manusia untuk kembali memahami makna ikhtiar, pasrah, dan syukur kepada Allah SWT.
Tulisan bernuansa religius tersebut menegaskan bahwa menerima, menjalani, dan mensyukuri bukanlah perkara mudah. Sebagai manusia, setiap hamba sering diuji dengan berbagai persoalan hidup, baik dalam bentuk kesedihan, kehilangan, maupun kegagalan. Namun, Islam mengajarkan bahwa semua itu adalah bagian dari proses mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa keterbatasan manusia sering kali membuat kita sulit menerima kenyataan. Padahal, di balik setiap ketetapan Allah terdapat hikmah yang tidak selalu dapat segera dipahami.
Dalam refleksi tersebut juga ditegaskan bahwa manusia hanyalah hamba yang mampu berusaha, sementara hasil akhirnya tetap berada dalam kuasa Allah. “Kuserahkan ikhtiarku, kubawa pasrahku, kupeluk ikhlasku,” menjadi pesan kuat tentang pentingnya tawakal setelah ikhtiar maksimal dilakukan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa kekuatan seorang mukmin terletak pada dua hal: syukur saat lapang dan sabar saat sempit. Keduanya menjadi jalan menuju ketenangan jiwa.
Lebih jauh, manusia diingatkan bahwa tanpa Allah, hidup hanyalah tubuh tanpa arah. Nafas, langkah, dan seluruh kehidupan adalah titipan dari-Nya. Kesadaran inilah yang melahirkan kerendahan hati, bahwa sejatinya semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Allah SWT juga berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menjadi jawaban atas kegelisahan manusia modern yang sering mencari ketenangan di luar dirinya, padahal ketenteraman sejati hanya hadir ketika hati dekat dengan Allah.
Pesan spiritual ini menutup dengan doa yang sangat mendalam: agar hati tidak dibiarkan jauh dari Tuhan, agar jiwa tidak lupa arah pulang, dan agar hidup berakhir dalam kepasrahan kepada-Nya.
Karena pada akhirnya, setiap manusia sedang menempuh perjalanan pulang. Dan sebaik-baik bekal dalam perjalanan itu adalah iman, sabar, syukur, dan ketundukan total kepada Allah SWT.
(STNews)


