SUMEDANG, STNews — Majelis Adat Sumedanglarang menyatakan sikap tegas menolak rencana proyek geothermal di kawasan Gunung Tampomas. Penolakan tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi yang menegaskan bahwa Gunung Tampomas bukan sekadar kawasan alam, melainkan warisan sejarah, sumber kehidupan, dan ruang budaya masyarakat Sumedang.
Dalam pernyataannya, Majelis Adat Sumedanglarang menyebut Tampomas sebagai “nafas Sumedang” sekaligus saksi sejarah yang menjaga keseimbangan lingkungan, sumber air, hutan, hingga kehidupan masyarakat di wilayah hilir.
“Tampomas bukan lahan proyek. Tampomas adalah nafas Sumedang, Tampomas adalah saksi sejarah,” demikian isi pernyataan sikap tersebut.
Majelis Adat menilai, eksploitasi kawasan Gunung Tampomas untuk proyek geothermal berpotensi mengancam kelestarian lingkungan, terutama kawasan resapan air dan hulu sungai yang selama ini menopang kebutuhan masyarakat.
Menolak Eksploitasi Tampomas
Dalam poin sikapnya, Majelis Adat Sumedanglarang menegaskan penolakan terhadap segala bentuk eksploitasi di kawasan Gunung Tampomas.
Menurut mereka, pengeboran geothermal di kawasan inti Tampomas merupakan perjudian besar terhadap keberlangsungan sumber air, tanah, dan keselamatan warga yang hidup di kawasan hilir.
“Tampomas adalah kawasan resapan dan hulu sungai. Pengeboran geothermal di jantungnya adalah perjudian terhadap air, tanah, dan keselamatan rakyat di hilir,” tulisnya.
Tegaskan Peran Adat dan Persetujuan Masyarakat
Majelis Adat juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap adat, ilmu pengetahuan, dan hukum dalam setiap kebijakan pembangunan.
Mereka menilai tidak boleh ada keputusan terkait Tampomas tanpa persetujuan masyarakat yang dilakukan secara bebas, didahulukan, dan diinformasikan secara utuh.
“Adat hidup di sini sebelum izin ditulis di atas kertas,” tegas mereka.
Warisan Leluhur Tidak Bisa Digadaikan
Selain aspek lingkungan, Majelis Adat menyoroti nilai sejarah dan budaya yang melekat pada kawasan Gunung Tampomas. Situs budaya, hutan, dan mata air disebut sebagai amanah leluhur yang wajib dijaga lintas generasi.
Menurut mereka, kawasan tersebut tidak dapat ditukar dengan nilai investasi maupun keuntungan jangka pendek.
“Mengorbankannya demi investasi jangka pendek adalah pengkhianatan terhadap masa depan,” bunyi pernyataan itu.
Desak Kajian Komprehensif dan Transparan
Atas dasar tersebut, Majelis Adat Sumedanglarang secara tegas menolak rencana proyek geothermal di kawasan Gunung Tampomas dalam bentuk maupun skema apa pun, selama belum ada kajian ekologis, budaya, dan sosial yang dilakukan secara komprehensif dan transparan.
Mereka juga mengingatkan publik bahwa rekomendasi yang dikeluarkan pemerintah daerah disebut menjadi dasar acuan rencana proyek geothermal yang direncanakan oleh Kementerian ESDM.
Meski menyatakan penolakan, Majelis Adat menegaskan sikap mereka bukan bentuk perlawanan terhadap negara maupun penolakan terhadap energi baru terbarukan.
“Kami tidak melawan negara. Kami mengingatkan negara pada tanggung jawabnya. Kami tidak anti energi. Kami anti cara-cara yang merusak masa depan demi keuntungan sesaat,” tegasnya.
Pernyataan tersebut ditutup dengan satu kalimat yang menjadi simbol sikap mereka terhadap rencana proyek geothermal di Gunung Tampomas:
“TAMPOMAS TIDAK DIJUAL.”
(Agus Hadiana)


