Hakikat Qurban: Menyembelih Ego dan Kemelekatan Diri

Oleh: M. A. Rahmat Setiawan, Sekjen Forum Media Sumedang Timur


STNews — Perayaan Hari Raya Iduladha sejatinya bukan hanya tentang euforia penyembelihan hewan kurban, melainkan momentum spiritual untuk menyembelih ego, kesombongan, dan seluruh bentuk pengakuan diri yang melekat dalam kehidupan manusia.


Dalam kajian spiritual Islami, qurban dimaknai sebagai proses mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui keikhlasan dan pengorbanan. Bukan sekadar memotong kambing atau sapi, tetapi bagaimana manusia mampu “memotong” sifat merasa paling benar, paling hebat, paling mampu, dan paling berjasa.


Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 37:


“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”


Ayat tersebut menegaskan bahwa inti qurban bukan terletak pada fisik hewan yang disembelih, melainkan kualitas ketakwaan dan keikhlasan hati manusia.


Fenomena saat ini, qurban terkadang berubah menjadi simbol gengsi sosial dan ajang pengakuan diri. Padahal, dalam nilai hakikatnya, qurban justru mengajarkan manusia untuk menghancurkan ego dan kesombongan batin.


“Mengaku bisa, mengaku mampu, mengaku hebat, merasa paling berjasa, itulah yang sesungguhnya harus disembelih dalam diri manusia,” ungkap Rahmat Setiawan dalam kajian spiritualnya.


Ia menjelaskan, kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS bukan hanya cerita tentang penyembelihan, tetapi simbol totalitas kepasrahan kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya demi ketaatan kepada Tuhan.


Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Ash-Shaffat ayat 102:


“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.”


Kisah tersebut mengandung makna bahwa setiap manusia harus siap mengorbankan apa pun yang menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah, termasuk hawa nafsu dan kesombongan diri.


Dalam perspektif tasawuf, ego atau nafsu yang terus dipelihara akan menjauhkan manusia dari cahaya ketuhanan. Karena itu, Iduladha menjadi momentum penyucian hati agar manusia tidak terjebak dalam kemelekatan duniawi dan pujian manusia.


Allah SWT juga mengingatkan dalam Surat Asy-Syams ayat 9:


“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.”


Hakikat qurban akhirnya bukan tentang seberapa besar hewan yang dipotong, tetapi seberapa besar manusia mampu mengalahkan dirinya sendiri. Sebab musuh terbesar manusia bukan orang lain, melainkan ego dalam dirinya sendiri.


Momentum Iduladha menjadi pengingat bahwa manusia sejatinya kecil di hadapan Allah SWT. Tidak ada yang patut disombongkan, karena semua kemampuan, jabatan, kekuasaan, dan harta hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh Sang Pemilik Kehidupan.


Maka qurban yang sesungguhnya adalah ketika manusia mampu melepaskan kemelekatan pengakuan diri, lalu menggantinya dengan keikhlasan, kerendahan hati, dan ketundukan penuh kepada Allah SWT.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Definition List