STNews | Kajian Spiritual Islami, Oleh: M. A. Rahmat Setiawan (Sekjen FMST)
SUMEDANG – Dalam khazanah tasawuf, perjalanan hidup manusia tidak sekadar lahir, hidup, lalu kembali kepada Sang Pencipta. Lebih dari itu, setiap insan sejatinya sedang menapaki tahapan demi tahapan spiritual yang mengantarkan dirinya menuju derajat insan kamil (manusia paripurna).
Para ulama tasawuf menjelaskan adanya lima tatanan spiritual yang akan dilalui manusia, baik disadari maupun tidak: syariat, thariqat, hakikat, makrifat, dan karomah. Kelima tatanan ini bukan pilihan, melainkan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam perjalanan menuju Allah SWT.
Ibarat sebuah buah, kelima tatanan ini memiliki makna yang dalam:
Syariat adalah kulit, thariqat adalah proses mengupas, hakikat adalah isi, makrifat adalah rasa, dan karomah adalah manfaat yang dirasakan, baik oleh diri sendiri maupun orang lain.
Syariat: Pondasi Lahiriah
Syariat adalah pintu awal. Ia mencakup aturan-aturan lahir seperti shalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya. Tanpa syariat, perjalanan spiritual tidak memiliki arah.
Allah SWT berfirman:
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama), maka ikutilah itu…”
(QS. Al-Jatsiyah: 18)
Syariat membentuk disiplin, namun belum tentu menghadirkan kedalaman jika tidak dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Thariqat: Jalan Menuju Kedekatan
Thariqat adalah proses perjalanan batin, usaha sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri kepada Allah. Di sinilah seorang hamba mulai mengupas dirinya dari sifat-sifat buruk.
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad) untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…”
(QS. Al-Ankabut: 69)
Thariqat menuntut kesungguhan, bukan sekadar pengetahuan.
Hakikat: Menemukan Kebenaran Sejati
Hakikat adalah inti dari perjalanan, ketika seseorang mulai memahami makna di balik setiap ibadah dan kehidupan. Ia tidak lagi sekadar menjalankan, tetapi mulai mengerti.
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri…”
(QS. Fussilat: 53)
Pada tahap ini, hati mulai terbuka dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah dalam segala hal.
Makrifat: Merasakan Kehadiran Allah
Makrifat adalah puncak kesadaran, ketika seorang hamba benar-benar mengenal dan merasakan kehadiran Allah dalam setiap detik kehidupannya.
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
(QS. Qaf: 16)
Makrifat bukan sekadar ilmu, tetapi pengalaman batin yang mendalam. Di sinilah “mengenal Allah” menjadi nyata, bukan sekadar konsep.
Karomah: Buah dari Perjalanan
Karomah bukan tujuan, melainkan dampak dari perjalanan yang benar. Ia adalah manfaat yang muncul dari kedekatan seorang hamba kepada Allah, baik untuk dirinya maupun orang lain.
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”
(QS. Yunus: 62)
Karomah bisa berupa ketenangan, kebijaksanaan, atau kebermanfaatan yang dirasakan oleh lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, kelima tatanan ini adalah satu rangkaian utuh yang dilalui oleh setiap manusia. Tidak ada yang bisa melompati tahap, karena semuanya saling terkait dan saling menguatkan.
Namun, yang menjadi pembeda adalah kesadaran. Ada yang menjalani sekadar rutinitas, ada pula yang menapaki dengan penuh penghayatan.
Kajian ini mengingatkan bahwa perjalanan spiritual bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dijalani. Karena sejatinya:
Syariat tanpa thariqat adalah kering,
Thariqat tanpa hakikat adalah kosong,
Hakikat tanpa makrifat adalah buta,
Dan makrifat tanpa amal tidak akan melahirkan karomah.
Maka, sudah sejauh mana kita berjalan?
(Redaksi)


