Awaludin Makrifatullah: Fondasi Beragama Dimulai dari Mengenal Allah

Redaksi
0

STNews | Kajian Spiritual Islami

Oleh: M. A. Rahmat Setiawan (Sekjen FMST)

SUMEDANG, STNews – Dalam perjalanan spiritual seorang hamba, satu pertanyaan mendasar kerap luput dari perhatian: sudahkah kita benar-benar mengenal Allah sebelum menjalankan perintah-Nya? Dalam kajian spiritual Islami, konsep “Awaludin makrifatullah” menegaskan bahwa awal dari keberagamaan sejati adalah mengenal Allah secara mendalam, bukan sekadar mengetahui.


Sering kali manusia terjebak pada rutinitas ibadah tanpa pemahaman. Shalat dikerjakan, puasa dijalankan, namun hati belum benar-benar tersambung kepada Sang Pencipta. Padahal, bagaimana mungkin seseorang menjalankan perintah dengan penuh kesadaran jika ia belum mengenal siapa yang memberi perintah?


Allah SWT sendiri menegaskan pentingnya mengenal dan mendekat kepada-Nya dalam firman-Nya:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ibadah dalam ayat ini bukan hanya sebatas ritual, melainkan penghambaan yang lahir dari pengenalan (makrifat) kepada Allah.

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah…”
(QS. Muhammad: 19)

Ayat ini menegaskan bahwa ilmu (mengetahui/mengenal) didahulukan sebelum amal. Artinya, makrifat adalah pintu awal menuju ibadah yang benar.


Dalam perjalanan hidup manusia, para ulama tasawuf menjelaskan adanya lima tatanan spiritual yang akan dilalui, baik disadari maupun tidak: syariat, thariqat, hakikat, makrifat, dan karomah, hingga mencapai derajat insan kamil (manusia paripurna).


Namun, perjalanan ini tidak cukup hanya dengan membaca atau mendengar. Di sinilah pentingnya perbedaan antara mengaji dan mengkaji. Mengaji bisa sebatas membaca, tetapi mengkaji berarti memahami, meresapi, dan mengamalkan.

Allah SWT berfirman:

“Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”
(QS. Muhammad: 24)

Ayat ini menjadi peringatan bahwa membaca tanpa memahami hanya akan menjadi rutinitas kosong.

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama (orang yang berilmu).”
(QS. Fatir: 28)

Ilmu yang dimaksud bukan sekadar hafalan, tetapi pemahaman yang melahirkan kesadaran dan rasa takut (takwa).


Dalam istilah Sunda, fenomena ini sering disebut: “loba catur tanpa bukur” — banyak bicara tanpa bukti. Ibarat menggambar kue untuk menghilangkan lapar, teori tanpa praktik tidak akan pernah memberi manfaat nyata.


Sebaliknya, ketika ilmu diamalkan, maka lahirlah perubahan. Orang Sunda menyebutnya sederhana namun dalam: “Pok, Pek, Prak” — niat, ucap, dan laku yang selaras.

Allah juga menegaskan pentingnya amal nyata:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”
(QS. As-Saff: 2)

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.”
(QS. Asy-Syams: 9)

Makrifatullah bukan sekadar konsep tinggi dalam tasawuf, tetapi kebutuhan dasar setiap insan. Dengan mengenal Allah, ibadah menjadi hidup, hati menjadi tenang, dan langkah menjadi terarah.


Pada akhirnya, perjalanan spiritual bukan tentang seberapa banyak kita tahu, tetapi seberapa dalam kita mengenal dan seberapa nyata kita menjalankan.

Karena beragama tanpa makrifat adalah rutinitas,
dan makrifat tanpa amal adalah ilusi.

(Redaksi)

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default