Oleh : Rahmat Setiawan
SUMEDANG, STNews - Fenomena manusia modern hari ini bukan lagi soal kurangnya informasi, melainkan hilangnya kepekaan hati. Ungkapan “matamu melihat tapi buta, mulutmu bicara tapi bisu, kupingmu mendengar tapi tuli” bukan sekadar kiasan, melainkan potret nyata manusia yang kehilangan arah spiritual.
Dalam perspektif Islam, kondisi ini telah dijelaskan jauh hari dalam Al-Qur’an. Allah Ø³Ø¨ØØ§Ù†Ù‡ وتعالى berfirman dalam Surat Al-Qur'an:
“Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi.”
(QS. Al-A’raf: 179)
Ayat ini menggambarkan manusia yang secara fisik sempurna, namun secara spiritual lumpuh. Mata tidak lagi mampu melihat kebenaran, telinga tidak mau menerima nasihat, dan hati tertutup dari hidayah.
Buta yang Sebenarnya Bukan di Mata
Dalam ayat lain, Allah menegaskan bahwa kebutaan sejati bukanlah pada penglihatan fisik, melainkan pada hati:
“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada.”
(QS. Al-Hajj: 46)
Artinya, seseorang bisa melihat dunia dengan jelas, namun gagal melihat kebenaran. Ia bisa mendengar ceramah, namun tak tersentuh. Ia bisa berbicara panjang, namun kosong makna.
Ketika Lisan Tak Lagi Jujur
Mulut yang “bisu” dalam ungkapan tersebut bukan berarti tidak berbicara, melainkan kehilangan keberanian untuk berkata benar. Dalam kehidupan sosial, banyak orang memilih diam terhadap kezaliman, atau justru bersuara untuk kebatilan.
Padahal Rasulullah ï·º mengajarkan bahwa berkata benar adalah bagian dari iman.
Tuli dari Nasihat, Mati dari Kebenaran
Ketika telinga tak lagi mau mendengar kebenaran, itulah awal dari kehancuran hati. Nasihat dianggap angin lalu, ayat-ayat Allah tak lagi menggugah, bahkan kebenaran terasa mengganggu.
Dalam kondisi ini, manusia berjalan tanpa arah, hidup tanpa makna, dan berpotensi jauh dari rahmat Allah.
Refleksi: Hidupkan Kembali Hati
Ungkapan tersebut sejatinya adalah peringatan keras. Bahwa manusia tidak cukup hanya hidup secara fisik, tetapi harus menghidupkan hati dengan iman, ilmu, dan dzikir.
Karena ketika hati mati, maka:
- Mata tak lagi melihat kebenaran
- Telinga tak lagi mendengar petunjuk
- Lisan tak lagi menyuarakan kebaikan
Dan saat itu terjadi, manusia bukan hanya tersesat… tapi juga tak sadar bahwa dirinya sedang tersesat.
(Redaksi STNews)



