28 Kali Diulang dalam Al-Qur’an: Sholat dan Zakat Tak Bisa Dipisahkan, Ini Pesan Sosial yang Sering Diabaikan

Redaksi
0

Oleh: M.A. Rahmat Setiawan

Perintah sholat dan zakat bukan sekadar ajaran biasa dalam Islam. Keduanya adalah fondasi utama yang secara tegas dan berulang ditegaskan dalam Al-Qur’an.


Menariknya, perintah “Dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat” (wa aqīmush-ṣalāta wa ātuz-zakāh) disebutkan sekitar 28 kali dalam Al-Qur’an, baik dengan redaksi yang sama maupun sangat mirip.


Ini bukan pengulangan tanpa makna. Justru di sinilah letak kekuatan pesan Islam: membangun keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan kepedulian terhadap sesama manusia.


Beberapa ayat yang menegaskan hal tersebut di antaranya:

  • QS. Al-Baqarah: 43
    “Dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat…”

  • QS. Al-Baqarah: 83
    “…Dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat…”

  • QS. An-Nisa: 77
    “…Dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat…”

  • QS. At-Taubah: 5
    “…Jika mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat…”

  • QS. Al-Hajj: 41
    “…Mendirikan sholat, menunaikan zakat…”

  • QS. An-Nur: 56
    “Dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat…”

Fakta bahwa perintah ini diulang puluhan kali menunjukkan satu hal penting:
Islam tidak pernah memisahkan ibadah ritual dan tanggung jawab sosial.


Namun realitas di lapangan sering kali berbeda.


Sholat dijaga dengan baik, bahkan menjadi simbol kesalehan. Tetapi zakat, infak, dan sedekah sering kali hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu—bahkan terkadang menunggu instruksi atau program dari lembaga.


Padahal jika merujuk pada semangat ayat-ayat tersebut, zakat bukan hanya kewajiban formal tahunan, melainkan ruh berbagi yang harus hidup dalam keseharian umat.


Bayangkan jika setiap selesai sholat, umat Islam membiasakan diri berbagi, meski hanya Rp500:

  • 1 hari: Rp2.500
  • 1 bulan: Rp75.000
  • 1 tahun: ± Rp900.000 per orang

Jika ini dilakukan oleh jutaan umat, maka akan terbentuk kekuatan ekonomi umat yang luar biasa.


Inilah yang sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, budaya memberi harus menjadi karakter, bukan sekadar kewajiban sesaat.


Pengulangan perintah sholat dan zakat hingga 28 kali seolah menjadi “alarm Ilahi” yang terus diingatkan kepada umat manusia:
bahwa ibadah tidak cukup hanya menghadap ke atas (Allah), tetapi juga harus menjangkau ke samping (sesama manusia).


Jika konsep ini benar-benar dihidupkan, maka kemiskinan bukan hanya bisa dikurangi—tetapi bisa ditekan secara sistematis dari dalam kesadaran umat itu sendiri.


Pertanyaannya hari ini sederhana:
Apakah kita sudah benar-benar menjalankan dua perintah itu sebagai satu kesatuan?

(Red)

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default