Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jejak Langkah Hidup Manusia dalam 17 Pupuh Sunda: Renungan Spiritual dari Rahim hingga Kembali ke Sang Pencipta

Minggu, 20 September 2026 | September 20, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-20T15:09:17Z


Oleh: M. A. Rahmat Setiawan

Sekjen Forum Media Sumedang Timur (FMST)


SUMEDANG – STNews, Di tengah derasnya perubahan zaman, masyarakat Sunda menyimpan sebuah warisan luhur yang tak lekang oleh waktu: 17 Pupuh Sunda. Lebih dari sekadar karya sastra, pupuh-pupuh ini adalah peta perjalanan hidup manusia—sebuah refleksi spiritual yang mengiringi langkah sejak dalam kandungan hingga kembali ke tanah.


Dalam perspektif Islam, perjalanan ini sejatinya telah ditegaskan dalam firman Allah SWT:


“Kemudian Kami menjadikannya air mani dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging...”

(QS. Al-Mu’minun: 13-14)


Awal Kehidupan: Dari Rahim hingga Tumbuhnya Jiwa

Fase pertama tergambar dalam Pupuh Maskumambang, saat manusia masih berada dalam rahim—tak berdaya, sepenuhnya bergantung pada kehendak Ilahi.


“Anak oge geuning teu bisa nangtukeun,

Bakal jadi naon,

Kuring ngan saukur bisa,

Minta campur tangan Gusti.”


Kelahiran yang diwakili Pupuh Mijil menjadi awal perjalanan duniawi, diiringi harapan dan doa orang tua.


“Batin ceurik ningali nu anyar morojol,

Kasep tur mulus,

Mugi-mugi hirupna masagi,

Salamet dunya katut akhirat.”


Masa kanak-kanak dalam Pupuh Kinanti menegaskan pentingnya tuntunan dan pendidikan sebagai fondasi kehidupan.


“Kudu ngaji ka sepuh teh,

Nurut kana piwurukna,

Ulah hanteu nurut bapa,

Supaya salamet hirup.”


Masa Pencarian dan Puncak Kehidupan

Remaja dalam Pupuh Sinom adalah fase semangat dan mimpi. Lalu Asmarandana menghadirkan cinta, sementara Dangdanggula menggambarkan puncak kebahagiaan duniawi.


“Kasukaan hirup geus kapetik,

Hasil gawe nu pinuh ku ikhlas,

Agung bagja jeung rezeki,

Subur makmur tur raharja.”


Namun Allah SWT mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara:


“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu...”

(QS. Al-Hadid: 20)


Dalam Pupuh Durma, manusia diuji oleh godaan, amarah, dan hawa nafsu—ujian yang menentukan arah kehidupan.


“Ulah takabur ku perkara dunya,

Nu bisa matak rugi,

Lawan hawa nafsu,

Pikeun jalan ka kasucian.”


Senja Kehidupan: Kesadaran dan Taubat

Fase Magatru hingga Gurisa menandai munculnya kesadaran akan kefanaan dunia. Langkah melambat, hati mulai mendekat kepada Sang Pencipta.


“Meungpeung hirup hayu urang cape batin,

Ngingetkeun raga nu lungsur,

Supaya ulah kasurung ku dunya,

Geura eling ka Nu Agung.”


Kebersamaan keluarga dalam Balakbak menjadi pelipur, namun di fase Wirangrong, manusia mulai menyesali dosa-dosanya.


“Dosa na geus kacida rea,

Rumasa kuring geus poho,

Ampun Gusti Nu Maha Suci,

Mugi nampi tobat kuring.”


Allah SWT berfirman:


“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah...”

(QS. Az-Zumar: 53)


Kepulangan: Saat yang Tak Terelakkan

Fase akhir dalam Pupuh Pangkur hingga Pucung menggambarkan kepasrahan total dan detik-detik kematian.


“Geus deukeut kana ajalna,

Awak sepa teu berdaya,

Ngan doa nu bisa nyarengan,

Pasrah ka Nu Maha Kawasa.”


Dan akhirnya:


“Eling-eling masing eling,

Raga dibungkus ku kafan,

Pocong geus siap ka kubur,

Saha nu bisa nulungan,

Ngan saukur amal hade.”


Sebagaimana firman Allah SWT:


“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”

(QS. Al-Ankabut: 57)


Penutup: Warisan Luhur yang Menghidupkan Kesadaran

17 Pupuh Sunda adalah cermin kehidupan yang utuh—mengajarkan bahwa manusia berasal dari ketiadaan, menjalani ujian kehidupan, dan akhirnya kembali kepada Sang Pencipta.


Di tengah modernitas yang kerap melupakan makna hidup, pupuh-pupuh ini menjadi pengingat: bahwa hidup bukan sekadar mencari dunia, tetapi menyiapkan bekal untuk akhirat.


STNews memandang, kearifan lokal seperti Pupuh Sunda bukan hanya budaya yang harus dilestarikan, tetapi juga sumber nilai spiritual yang mampu membimbing manusia agar tetap berpijak pada kebenaran.


Pada akhirnya, setiap manusia adalah musafir—dan setiap langkah adalah perjalanan menuju pulang.

×
Berita Terbaru Update