Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jalan Rusak Jadi Lomba: Satire Pedas dari Jatinunggal untuk Pemkab Sumedang

Minggu, 13 September 2026 | September 13, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-13T02:08:54Z


Fenomena lomba “ngaspal jalan” di Desa Sarimekar jadi simbol kritik warga terhadap lambannya pembangunan infrastruktur


SUMEDANG | STNews — Sebuah pemandangan tak biasa muncul di wilayah Kecamatan Jatinunggal, Kabupaten Sumedang. Sebuah gapura berdiri di tengah jalan rusak dengan tulisan mencolok: “Lomba Ngaspal Jalan” lengkap dengan hadiah jutaan rupiah dan ajakan terbuka bagi masyarakat—bahkan pejabat—untuk ikut serta.


Di balik kreativitas warga tersebut, tersimpan pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar lomba. Ini bukan hiburan, melainkan sindiran keras—cara elegan namun menohok untuk menyuarakan kekecewaan terhadap kondisi infrastruktur yang dinilai belum mendapat perhatian serius.


Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi aktivitas warga justru berubah menjadi “arena lomba”. Kerusakan yang tampak jelas—berbatu, berlubang, dan sulit dilalui—seolah menjadi panggung terbuka bagi kritik publik yang selama ini mungkin terpendam.


Fenomena ini bisa dibaca sebagai bentuk komunikasi sosial: ketika aspirasi tak kunjung menemukan respons, warga memilih cara lain untuk didengar. Mereka tidak turun ke jalan dengan aksi besar, namun justru menghadirkan satire yang lebih kuat gaungnya.


“Lomba” ini secara tidak langsung mengajukan pertanyaan penting:

apakah pembangunan infrastruktur sudah benar-benar merata?

Ataukah masih ada wilayah yang harus bersuara keras agar diperhatikan?


Di sisi lain, pendekatan kreatif seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak apatis. Mereka peduli, mereka ingin perubahan, dan mereka masih berharap adanya respon nyata dari para pemegang kebijakan.


Pemerintah Kabupaten Sumedang tentu diharapkan dapat menangkap pesan ini secara bijak. Bukan sekadar melihatnya sebagai kejadian unik, melainkan sebagai refleksi kondisi di lapangan. Kritik yang dibungkus satire seperti ini justru bisa menjadi bahan evaluasi yang jujur dan konstruktif.


Perlu dipahami, pembangunan infrastruktur bukan hanya soal proyek fisik, tetapi juga tentang keadilan akses dan rasa kehadiran negara di tengah masyarakat. Ketika jalan rusak dibiarkan terlalu lama, yang tergerus bukan hanya aspal—tetapi juga kepercayaan publik.


Fenomena “Lomba Ngaspal Jalan” di Jatinunggal kini menjadi cermin:

bahwa di balik kreativitas warga, ada harapan yang belum sepenuhnya terjawab.


Penutup

Alih-alih dipandang sebagai kritik negatif, momen ini seharusnya menjadi titik balik—bahwa suara masyarakat, sekecil apapun bentuknya, tetap layak untuk didengar dan ditindaklanjuti secara nyata.

(Redaksi)

×
Berita Terbaru Update