Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Makrifat Aib yang Tersingkap: Ketika Dosa Diulang, Allah Membuka yang Tersembunyi

Senin, 31 Agustus 2026 | Agustus 31, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-31T01:13:35Z


STNews | Kajian Spiritual Makrifat, oleh M. A. Rahmat Setiawan

Sekjen Forum Media Sumedang Timur (FMST)


Dalam perjalanan hidup manusia, tidak ada yang luput dari salah dan dosa. Namun dalam dimensi makrifat, kesalahan bukan sekadar pelanggaran, melainkan sinyal kasih sayang Allah agar hamba kembali kepada-Nya. Yang menjadi persoalan bukan hanya dosa itu sendiri, tetapi ketika dosa tersebut terus diulang hingga melampaui batas.


Allah ï·» berfirman:

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”

(QS. Asy-Syura: 30)


Ayat ini menjadi cermin bahwa setiap kejadian dalam hidup manusia tidak lepas dari sebab akibat. Namun menariknya, Allah menegaskan bahwa ampunan-Nya jauh lebih luas dibanding hukuman yang ditimpakan. Artinya, banyak dosa yang sebenarnya telah Allah tutup rapat—tidak dibuka ke hadapan manusia.


Dalam perspektif makrifat, “aib yang tertutup” adalah bentuk rahmat. Allah menjaga kehormatan hamba-Nya meskipun mereka berbuat dosa. Namun ketika kesalahan itu terus diulang, bahkan dilakukan dengan kesadaran tanpa rasa takut, maka hukum spiritual mulai berjalan: yang tertutup bisa dibuka.


Rasulullah ï·º bersabda:

“Setiap umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang terang-terangan (berbuat maksiat).”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini memberi peringatan keras bahwa dosa yang dipertontonkan, atau dilakukan tanpa rasa malu, berpotensi menghilangkan perlindungan Allah. Dalam kondisi tertentu, bukan hanya dosa yang tampak, tetapi aib yang lama tersembunyi pun bisa Allah singkap sebagai pelajaran.


Allah juga berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

(QS. Ar-Ra’d: 11)


Ini adalah hukum perubahan spiritual. Ketika seseorang terus membiarkan dirinya dalam kesalahan, tanpa taubat, tanpa perbaikan, maka perlindungan Allah perlahan dicabut. Bukan karena Allah tidak sayang, tetapi karena manusia sendiri yang menutup pintu rahmat itu.


Namun di balik semua itu, Islam tidak pernah menutup pintu harapan. Bahkan bagi mereka yang telah berkali-kali jatuh dalam kesalahan.


Allah berfirman:

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”

(QS. Az-Zumar: 53)


Inilah keseimbangan dalam makrifat: antara takut (khauf) dan harap (raja’). Takut akan terbukanya aib akibat dosa yang terus diulang, dan harap akan ampunan Allah yang tak terbatas.


Refleksi Makrifat:

Kesalahan yang pernah terjadi dan telah Allah tutup, sejatinya adalah kesempatan untuk berubah. Namun jika manusia melampaui batas—mengulang, meremehkan, bahkan bangga dengan dosa—maka jangan heran jika suatu saat Allah membuka apa yang dulu disembunyikan.


Bukan untuk mempermalukan semata, tetapi sebagai teguran agar kembali.

Karena dalam hakikatnya, Allah tidak pernah ingin mempermalukan hamba-Nya—yang Dia inginkan adalah hamba itu kembali.


Redaksi STNews

×
Berita Terbaru Update